Jakarta, TopBusiness – Sebanyak 5.216 pelari mengikuti ITB Ultra Marathon 2026 yang menempuh rute Jakarta-Bogor-Puncak-Cimahi-Bandung sejauh 180 kilometer. Ajang lari ultra maraton yang digelar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini dimulai pada Jumat (16/10/2026) pukul 21.00 WIB dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Senayan, Jakarta.
Para peserta memiliki waktu hingga 38 jam untuk menyelesaikan perlombaan yang melintasi dua malam tersebut. Peserta dapat mengikuti kategori individu dengan jarak 180 kilometer atau kategori estafet (relay) yang terdiri atas tim beranggotakan dua, empat, delapan, hingga 16 orang.
Garis finis perlombaan berada di Kampus ITB, Jalan Ganesha Nomor 10, Bandung. Selain kategori Ultra Marathon, rangkaian kegiatan juga mencakup ITB Ultra Fun Run 2026 sejauh 5 kilometer yang digelar di Bandung pada 18 Oktober 2026.
Ketua Pelaksana ITB Ultra Marathon 2026, Suhanto, mengatakan jumlah peserta tahun ini meningkat signifikan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pada tahun lalu, ajang tersebut diikuti 3.697 peserta, sedangkan tahun ini jumlah pelari Ultra Marathon mencapai 5.216 orang.
Ditambah 2.237 peserta ITB Ultra Fun Run 2026, total pendaftar dalam rangkaian kegiatan ini mencapai 7.453 orang. Seluruh kategori bahkan telah memenuhi kuota sebelum batas akhir pendaftaran.
“Pelari yang terlibat, termasuk lonjakan dari 3.697 ke 5.216 peserta, kehadiran kategori Korporasi, serta ribuan pelari ITB UM Fun Run 2026 di Bandung, melampaui target kami,” ujar Suhanto dalam Press Conference Pelepasan Start ITB Ultra Marathon 2026 di Kemdiktisaintek, Senayan, Jakarta pada Jumat malam (16/10/2026).
Tahun ini, panitia juga memperkenalkan klasifikasi Korporasi bagi peserta individu maupun tim yang berasal dari perusahaan, BUMN, atau lembaga dan instansi pemerintah yang sama. Klasifikasi tersebut melengkapi kategori Publik/Umum, Alumni ITB, Mahasiswa ITB, dan Intervarsity bagi alumni perguruan tinggi lain.
Perkuat Keselamatan Pelari
Untuk mendukung keselamatan peserta, panitia menyiapkan sekitar 525 unit GPS tracker yang digunakan pelari individu dan tim estafet. Melalui sistem live tracking, keluarga, rekan, dan komunitas dapat memantau posisi pelari secara langsung melalui tautan yang dibagikan di media sosial resmi @itbultra.
Panitia juga memperkuat dukungan medis dan pengamanan karena sebagian besar rute perlombaan melewati jalan umum yang tetap beroperasi. Dukungan tersebut melibatkan Yayasan Atlas Medical Pioneer (AMP) Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, TNI, Polri, dan Dinas Perhubungan.
Race Director ITB Ultra Marathon 2026, Ahmad Shalahuddin Zulfa, mengatakan penguatan sistem pemantauan dan dukungan lapangan menjadi bagian penting dari penyelenggaraan tahun ini.
“Ultra Marathon itu soal bertahan, tetapi tidak ada yang boleh bertahan sendirian. Tahun ini, kami memasang tracker pada setiap tim relay dan pelari individu, serta memperkuat dukungan marshal dan tim medis, terutama pada malam hari,” katanya.
Untuk mengurangi risiko kecelakaan, panitia menambah personel marshal di titik-titik rawan, menyiagakan ambulans mobil dan motor, serta mewajibkan pelari menggunakan lampu kedip dan reflektor saat kondisi gelap. Sebanyak 160 marshal dari komunitas warga lokal juga dilibatkan untuk mendukung kelancaran perlombaan.
Salurkan Manfaat bagi Kampus dan Masyarakat
Mengusung tema Running for Impact, ITB Ultra Marathon 2026 tidak hanya berorientasi pada olahraga, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat bagi kampus dan masyarakat di sepanjang rute.
Hasil kegiatan akan disalurkan melalui Dana Lestari ITB untuk mendukung keberlanjutan institusi, termasuk beasiswa dan riset. Penyelenggaraan acara juga melibatkan mahasiswa serta menghadirkan bazar UMKM dan produk lokal di area finis.
Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, mengatakan semangat kegiatan tersebut sejalan dengan visi ITB Berdampak, yakni menghadirkan manfaat nyata melalui pendidikan, riset, dan inovasi.
“Pelari berlari 180 kilometer menuju Ganesha. Hasilnya kembali ke ITB lewat Dana Lestari untuk menjaga keberlanjutan kampus, dan sampai ke masyarakat lewat teknologi karya dosen kami yang kini menghasilkan filter air minum di sepanjang rute,” ujarnya.
Salah satu program yang dihadirkan adalah pemasangan lima unit Water Ultra Filter di sekolah, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, dan fasilitas umum di sekitar rute perlombaan.
Perangkat tersebut menggunakan teknologi IGW Membran Ultrafiltrasi yang dikembangkan oleh Guru Besar ITB Prof. I Gede Wenten bersama Ganesh Osmotech. Teknologi ini mengintegrasikan empat tahap pengolahan air dalam satu perangkat dengan kapasitas produksi mencapai 2.400 liter per jam untuk setiap unit.
Selain menyediakan akses air minum, fasilitas tersebut akan menjadi titik pengisian ulang air bagi pelari yang melintas. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi penggunaan botol kemasan sekali pakai sekaligus mengedukasi masyarakat, terutama anak-anak sekolah, mengenai gaya hidup ramah lingkungan.
Program tersebut dijalankan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB bersama Komisariat ITB Ultra, Ikatan Alumni ITB, dan mitra tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Pengelola lokal juga akan mendapatkan pelatihan agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Kami ingin jejak ITB Ultra Marathon 2026 tidak hilang bersama pelari. Lari ini memang selesai di garis finis, tetapi manfaatnya tetap tinggal di sepanjang rute sehingga warga bisa terus menikmati air bersih yang layak minum,” kata Suhanto.
