Jakarta, TopBusiness – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air (SDA) untuk memperkuat ketersediaan air irigasi pertanian dan mengurangi dampak kekeringan yang kerap terjadi di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satunya dengan memperbaiki sistem pompa Bendung Sungai Bawah Tanah (BSBT) Bribin II yang tidak beroperasi sejak 2017.
Perbaikan sistem pompa Bribin II dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak sejak 1 September 2026 dan ditargetkan selesai pada 30 November 2026. Setelah tidak aktif selama hampir satu dekade akibat terdampak Badai Cempaka pada 2017, infrastruktur sumber air bawah tanah tersebut kini memasuki tahap pengujian untuk memastikan kesiapan sistem sebelum dioperasikan kembali untuk mendukung air irigasi di wilayah Gunungkidul.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan Kementerian PU terus mendorong berbagai upaya untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian selama menghadapi kondisi kekeringan. “Kita harus menjaga agar produktivitas petani tidak turun meskipun dalam kondisi kekeringan,” kata Menteri Dody.
Sementara Plt. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak Parlinggoman Simanungkalit mengatakan, salah satu tahapan penting dalam proses perbaikan adalah kegiatan pumping test Bribin II yang telah dilaksanakan pada 28 September 2026. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kondisi pompa sekaligus mengevaluasi kesiapan jaringan setelah lama tidak beroperasi.
“Hasil pengujian menjadi bagian dari dasar evaluasi teknis untuk memastikan sistem Bribin II dapat berfungsi secara aman dan optimal,” ujar Parlinggoman.
Menurut Parlinggoman, Rehabilitasi Bribin II dilakukan secara bertahap karena sistem telah cukup lama tidak beroperasi. Selain pengujian pompa, pekerjaan juga mencakup pengecekan serta perbaikan jaringan, termasuk pipa yang berada di bawah permukaan tanah.
“Bribin II merupakan bagian dari sistem pemanfaatan air bawah tanah di kawasan karst Gunungkidul. Infrastruktur tersebut memanfaatkan potensi air yang berada di gua bawah tanah untuk kemudian dipompa dan dialirkan ke permukaan sebagai bagian dari penyediaan air bagi masyarakat,” tambah Parlinggoman,
Kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi kawasan karst membuat sebagian wilayah memiliki keterbatasan sumber air permukaan. Karena itu, optimalisasi sumber air bawah tanah menjadi salah satu pendekatan penting dalam memperkuat ketahanan air daerah.
Perbaikan Bribin II bagian dari penerapan optimalisasi, operasi, pemeliharaan, dan rehabilitasi infrastruktur SDA Kementerian PU agar infrastruktur yang telah tersedia dapat kembali memberikan manfaat secara maksimal. Dengan target penyelesaian pada 30 November 2026, Kementerian PU berharap seluruh rangkaian perbaikan Bribin II dapat dituntaskan sehingga infrastruktur tersebut kembali siap mendukung penyediaan air bagi masyarakat Gunungkidul, khususnya saat musim kemarau.
