Jakarta, TopBusiness – Pekerja industri perfilman memiliki pola pendapatan yang berbeda dari pekerja dengan penghasilan tetap. Sebagian besar bekerja berdasarkan proyek dan menerima pembayaran sesuai termin yang disepakati.
Kondisi ini membuat pengelolaan arus kas dan pencatatan keuangan menjadi penting untuk menjaga kepastian finansial. Kebutuhan tersebut menjadi perhatian Amar Bank dalam memahami karakteristik pekerja industri kreatif.
Melalui kolaborasi dengan Indonesia Cinematographers Society (ICS), Amar Bank berupaya memahami pola kerja dan kebutuhan finansial para sinematografer.
Inisiatif ini menjadi bagian dari rangkaian Road to JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank melalui ICS Talks 2026 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Marketing Head Amar Bank Rosalinda Hoesin mengatakan, pengelolaan keuangan yang tertata dapat membantu pekerja film membangun rekam jejak finansial.
Catatan tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi perbankan dalam menilai kebutuhan nasabah dan akses terhadap layanan keuangan.
Bagi sinematografer, tanggung jawab pekerjaan tidak selalu berakhir setelah pengambilan gambar selesai. Mereka masih dapat terlibat dalam tahap color grading dan mastering, yakni penyempurnaan warna dan finalisasi film sebelum didistribusikan.
Proses ini membutuhkan waktu lebih panjang, sementara pembayaran umumnya mengikuti termin yang telah disepakati. Karena itu, pengaturan jadwal kerja dan arus kas menjadi penting.
Pekerja film perlu memastikan kebutuhan selama produksi maupun di antara proyek tetap terpenuhi. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Amar Bank mengedepankan pendekatan nurturing.
Pendekatan ini mendukung kesiapan finansial nasabah secara bertahap sesuai karakteristik pekerjaan mereka. Bagi pekerja kreatif, upaya tersebut mencakup pengelolaan arus kas, pencatatan transaksi, dan pembentukan financial track record.
“Teknologi akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika dikembangkan berdasarkan kebutuhan penggunanya. Amar Bank ingin memahami bagaimana sinematografer bekerja, mengelola proyek, dan menghadapi kebutuhan finansialnya. Pemahaman ini menjadi penting agar teknologi dan layanan keuangan dapat semakin relevan dengan karakter profesi kreatif,” jelas Rosalinda, dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).
Kolaborasi ini juga melibatkan ICS sebagai organisasi yang menaungi para sinematografer Indonesia. Dalam ICS Talks 2026 bertema “The Art of Look Test in Film”, ICS turut membahas proses kreatif dan perencanaan produksi melalui praktik look test.
Presiden ICS Agni Ariatama mengatakan, sinematografer tidak hanya bertanggung jawab atas aspek teknis pengambilan gambar, tetapi juga menerjemahkan skenario ke dalam bentuk audiovisual.
Perencanaan kebutuhan produksi sejak awal diperlukan agar visi kreatif dapat diselaraskan dengan sumber daya dan anggaran yang tersedia.
Sinematografer Arief Pribadi menilai dukungan dari pihak luar diperlukan untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan perfilman.
“Kita dari asosiasi atau profesi membutuhkan dukungan dari pihak luar untuk berkembangnya sinematografi Indonesia, termasuk ilmu-ilmu yang menyertainya, sehingga kita bisa bersaing dengan dunia luar. Karena tanpa dukungan sponsor, JAFF Market, Amar Bank, seperti ini, ya sudah, ilmu akan berhenti di sini,” ujarnya.
Melalui kolaborasi dengan ICS, Amar Bank berupaya memahami kebutuhan finansial para sinematografer sekaligus mendorong kesiapan mereka menuju bankability. Pemahaman terhadap pola kerja dan pendapatan pekerja kreatif menjadi bagian dari upaya membangun pengelolaan keuangan yang lebih terstruktur.
