Jakarta, BusinessNews Indonesia – Menjelang libur Lebaran 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 3,36 poin atau 0,38% ke 6.083,33 pada pembukaan perdagangan Jumat pagi (8/6/2018). Pelemahan indeks ini sejalan dengan bursa saham regional yang juga terperosok pada awal perdagangan hari ini.
Membuka perdagangan, ada 17 saham menguat, 18 saham melemah, dan 10 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp43,55 miliar dari 18,07 juta lembar saham diperdagangkan.
Indeks LQ45 turun 5,90 poin atau 0,6% menjadi 970,590, Jakarta Islamic Index (JII) turun 4,99 poin atau 0,7% ke 690,13, indeks IDX30 turun 3,95 poin atau 0,7% ke 526,95 dan indeks MNC36 turun 2,24 poin atau 0,6% ke 342,47.
Mayoritas sektor penggerak IHSG bergerak melemah, dengan sektor aneka industri memimpin pelemahan hingga 1,1%. Sementara sektor mining naik 0,3%.
Adapun saham-saham yang bergerak dalam jajaran top gainers, antara lain saham PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR) naik Rp750 atau 11,81% ke Rp7.100, saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) naik Rp170 atau 6,64% ke Rp2.730, dan saham PT Indomobil Sukses Tbk (IMAS) naik Rp130 atau 3,22% ke Rp4.190.
Sementara, saham-saham yang bergerak dalam jajaran top losers, antara lain PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) turun Rp550 atau 2,75% ke Rp19.450, saham PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) turun Rp8 atau 2,58% ke Rp320, dan saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) turun Rp30 atau 2,55% ke Rp1.145.
Sentimen di pasar regional melemah setelah Wall Street tergelincir, semalam. Indeks S&P 500 dan Nasdaq turun. Hanya, Dow Jones yang bertahan naik.
Pasar mulai mencemaskan lagi isu perang dagang jelang KTT G7 di Quebec pada Jumat ini. Uni Eropa mengancam akan menentang Amerika Serikat (AS) pada pertemuan itu, setelah Presiden Trump menerapkan tarif atas impor baja dan aluminium dari Kanada, Meksiko dan Uni Eropa pada minggu lalu.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah WTI lanjut reli di pasar Asia, setelah kemarin di pasar AS ditutup pada level tertinggi sepekan. Harga minyak bergulir di kisaran US$ 66 sebarel.
