Jakarta, BusinessNews Indonesia – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini masih terjerembab di zona merah.
Setelah dibuka melemah 0,15 persen, IHSG juga masih di teritori negatif dan sempat turun 1,66 persen ke posisi 5.651,57.
Setali tiga uang juga dialami oleh mata uang RI itu. Di pasar spot, rupiah sempat diperdagangkan terdepresiasi sebesar 0,37 persen ke level nyaris Rp14.500 yakni tepatnya Rp14.428/USD.
Melihat kondisi ini, menurut ekonom senior Rizal Ramli, laju rupiah yang terus merosot ini karena pihak regulator hanya mengandalkan kebijakan moneter saja. Justru tak ada kebijakan lain yang lebih mengena.
“Tidak ada terobosan di sektor riel dan tidak ada kebijakan pengelolaan utang yg inovatif. Jika terus mengandalkan kenaikan suku bunga terus hanya akan menambah masalah baru,” tegas Rizal, di Jakarta, Selasa (3/7).
Menurut mantan Menteri Koordinator Kemaritiman di era Presiden Joko Widodo ini, masalah baru dengan hanya mengandalkan stimulus suku bunga ini jika kemudian oada akhirnya total kenaikan bunga dalam setahun bisa 3-4 persen, baik bertahap maupun secara sekaligus di tahun ini.
“Karena hal ini akan membuat kondisi makro ekonomi terpuruk. Bahkan pertumbuhan ekonomi akan tambah merosot ke bawah 4,5%, pertumbuhan kredit juga akan anjlok dibawah 8%, kredit macet dan default bisa akan meningkat, serta daya beli tambah merosot,” ingat dia.
Dia sendiri menyayangkan kebijakan pemerintah yang hanya fokus membangun infrastruktur, tapi pengelolaan ekonomi makronya masih lemah.”Jokowi memang sangat bagus sekali soal infrastruktur, tapi sayang sangat payah dalam pengelolaan makro-ekonomi. Ekonomi bukannya ‘meroket’ tapi malah ‘nyungsep’,” ujarnya.
Dengan kondisi demikian, dia melihat kinerja tim ekonomi Jokowi dianggap benar-benar tak mampu menyelesaikan masalah. “Bahkan mereka bagian dari masalah. Persoalan utama mereka: school of thinking dan kompetensi, leadership yang payah,” ujarnya.
