TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Rupiah Kembali Terpuruk Dekati 15.000, Analis: Masih Ada Sentimen Positif

Busthomi
2 October 2018 | 09:50
rubrik: Business Info
Dolar AS Menguat Tipis Terhadap Mata Uang Utama

Foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada hari ini kemungkinan bisa kembali berada di zona merah. Namun begitu diperkirakan masih ada sentimen positif yang menopangnya.

Di sesi pembukaan pagi, mengutip Bloomberg rupiah kembali dekati level Rp15.000. Hari ini rupiah dibuka di posisi Rp 14.945 atau melemah 34 poin dari penutupan kemarin di level Rp14.911. Namun di 15 menit pertama kian terperosok ke posisi Rp 14.988 alias dekati Rp15.000.

Menurut Reza Priyambada, analis pasar uang dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), meski diawali dengan melemah, tapi rupiah berpeluang relatif bisa merespon positif sentimen yang ada.

“Kemarin Rupiah mampu menyerap sejumlah sentimen positif dari dalam negeri. Diharapkan pergerakan positif ini dapat kembali berlanjut pada hari ini,” jelas Reza, dalam daily report-nya, Selasa (2/10/2018).

Analisa Reza karena rupiah dianggap mampu memanfaatkan penguatan mata uang CAD terhadap USD setelah terjadinya kesepakatan antara Kanada dan AS, sehingga kesepakatan NAFTA pun dapat terjaga.

Untuk itu kendati di sesi pagi rupiah terperosok, dia masih yakin bisa menguat. Makanya Reza memperkirakan laju rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 14.912-14.892.

“Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah,” saran dia.

Keyakinan Reza rupiah bisa menguat karena kemarin, pasar uang merespon positif seiring dirilisnya data aktivitas ekonomi China yang cenderung melambat bulan lalu. Sehingga meningkatkan kekhawatiran investor akan dampak dari perang dagang antara Tiongkok dengan AS.

Dan dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) selama September 2018 mengalami deflasi sebesar 0,18% turut mengerek rupiah

“Dengan tercatatnya deflasi dapat dianggap Pemerintah berhasil mengendalikan inflasi agar tetap stabil. Ditambah lagi adanya pemberitaan kemudahan akses KUR bagi masyarakat turut membantu penguatan Rupiah,” pungkasnya. (Tomy)

BACA JUGA:   Bangun Fondasi CSR yang Kuat, MSI Institute Gelar Pelatihan ISO 26000 SR di Bali
Tags: dolar ASrupiah
Previous Post

IHSG Dibuka Merangkak Naik ke 5.945

Next Post

Otoritas Bursa Cermati Waran Natura City, Kenapa?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR