Malinau, TopBusiness – Ribuan masyarakat adat Dayak Kenyah pada Sabtu (20/10/2010) memadati lapangan Pelangi Intimung, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
Mereka sedang mengikuti Pergelaran Seni dan Budaya Dayak Kenyah yang dihelat dalam rangka Festival Irau ke-9 sekaligus peringatan HUT Kabupaten Malinau ke-19.
Ajang festival budaya dua tahunan ini menjadi istimewa karena ada pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk pertunjukan Sampek oleh 1.000 orang pemain. Sampek adalah alat musik petik seperti gitar khas suku Dayak.
Tak hanya permainan Sampek, masyarakat adat Dayak Kenyah juga menampilkan tarian khas Dayak yang diikuti ratusan penari perempuan dan laki-laki yang mengenakan pakaian dan aksesoris berwarna-warni.
Acara ini dihadiri Bupati Malinau Yansen TP, para pejabat di lingkungan pemerintahan Kabupaten Malinau, anggota DPRD, camat sekabupaten Malinau, para Ketua Lembaga Masyarakat Adat di Kabupaten Malinau, tamu undangan serta ribuan masyarakat yang menyaksikan ajang dua tahunan ini.
Bupati Malinau Yansen TP menjelaskan bahwa penampilan ribuan pemain Sampek menunjukkan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk memeriahkan Festival Irau 2018.
“Selain itu, kegiatan ini menegaskan kembali bahwa Sampek ini alat musik yang unik dalam kapasitas budaya Dayak khususnya Dayak Kenyah ini,” kata Yansen usai Pergelaran Seni dan Budaya Dayak Kenyah.
Menurut Yansen momentum ini jadi pengingat kepada masyarakat Dayak Kenyah agar tidak menghilangkan budaya Sampek ini. Sebab, akhir-akhir akhir ini Sampek sudah ditinggalkan alatnya meskipun musiknya tetap diperdengarkan.
“Makanya dengan diraihnya rekor Muri ini menjadi kebanggan tidak hanya bagi masyarakat Dayak Kenyah, tapi juga bangsa Indonesia. Karena itu cukup sulit mengumpulkan orang seribuan lebih untuk bermain Sampek,” tutur Yansen.
Yansen juga mengaku bersyukur karena beberapa alat tradisional masyarakat Dayak masuk rekor Muri seperti parang terpanjang hingga 22 meter. SelainĀ itu ada tameng terpanjang sekitar 11 meter.
