Jakarta, TopBusiness – Allianz baru saja meluncurkan ‘Laporan Kesejahtaraan Global’ edisi kesembilan. Laporan ini menunjukkan posisi aset dan utang di lebih dari 50 negara. Termasuk Indonesia.
Laporan tersebut mengamati perkembangan di 2017 yang merupakan tahun yang luar biasa bagi para investor, meskipun ketegangan politik meningkat.
Menurut Chief Economist Allianz, Michael Heise setelah terjadinya krisis keuangan, pemulihan ekonomi mencapai puncaknya dengan kemajuan yang sinkron di seluruh dunia serta meningkatnya kinerja pasar keuangan, khususnya pasar modal.
Hasilnya, aset finansial naik secara signifikan sebesar 7,7% dan aset finansial global meningkat menjadi EUR 168 triliun (bruto). “Jadi tahun lalu adalah tahun yang sangat baik bagi para penabung,” ungkap Michael di Jakarta, Rabu (31/10/2018).
Untuk Indonesia, kata dia, pada 2017 pertumbuhan aset finansial sektor swasta meningkat sebesar 10,9%, dimana pada tahun sebelumnya meningkat sebesar 9,9%.
Penggerak pertumbuhannya adalah sekuritas sebesar 28,2% yang mencerminkan perkembangan positif pasar saham Indonesia. Kemudian diikuti oleh asuransi dan dana pensiun bertumbuh 23,5%.
“Namun demikian, deposito tetap menjadi kelas aset yang paling diminati, dengan persentase sebesar 67,3%,” jelas dia.
Kondisi tersebut didasari oleh fakta bahwa sebagian besar penduduk masih belum memiliki atau mempunyai akses yang terbatas kepada jenis layanan dan produk keuangan lain yang lebih luas.
Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia, Joos Louwerier menambahkan meskipun pertumbuhan aset rumah tangga meningkat, namun penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah.
“Makanya Allianz Indonesia menyediakan solusi asuransi untuk semua segmen masyarakat. Kami berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan literasi keuangan untuk melindungi lebih banyak orang,” ungkap dia.
Lebih jauh dia menegaskan, untuk pertumbuhan kredit meningkat menjadi 9,0% pada tahun 2017, di mana pada tahun sebelumnya sebesar 8,3%.
“Sedang untuk posisi rasio utang terhadap PDB masih tetap stabil pada angka 16,2%, dan menjadi salah satu yang terendah di antara negara-negara Asia lain yang dianalisa,” jelas dia.
Untuk aset finansial per kapita (net) berada di posisi EUR 650 dan hal ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-52 dalam daftar negara terkaya di seluruh dunia (aset finansial per kapita) alias satu peringkat di atas Ukraina.
Sementara untuk posisi teratas, menurut Joos ditempati Swiss yang kembali merebut posisi teratas dari Amerika Serikat. “Secara umum, pada tahun 2017 itu, negara-negara Eropa lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan Euro yang semakin menguat,” tuturnya.
Penulis: Tomy
