Jakarta, TopBusiness—Investor terdorong menjadikan mata uang Jepang, Yen, sebagai safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat (AS). Adapun ketidakpastian itu adalah, pertama, government shutdown parsial pemerintahan federal AS. Ini mungkin mendorong semakin kuatnya ekspektasi publik bahwa ekonomi AS akan melemah tahun ini.
“Yang kedua, USD cenderung melemah selama lima hari perdagangan terakhir seiring tingginya ekspektasi dari investor bahwa tingkat suku bunga The Fed tidak akan naik sebanyak dua kali tahun 2019,” kata Analis Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail, dalam riset harian yang dipublikasikan pagi ini.
Mikail mengatakan bahwa, hari ini, Rupiah diperkirakan bergerak menguat seiring pelemahan Dollar Index ke level 96.0 sampai 96.2 terhadap semua mata uang kuat dunia.
“Rupiah diperkirakan akan terkena dampak positif dari menguatnya Yen. Selain itu tingkat inflasi yang diperkirakan akan tetap rendah di bulan Desember jelang rilis data BPS hari ini diperkirakan akan memberikan dampak positif bagi masuknya arus modal asing ke pasar obligasi Indonesia,” kata dia.
Inflasi Desember diperkirakan sebesar 2,98% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan bulan November sebesar 3,23% secara tahunan.
“Rupiah kemungkinan menguat ke level Rp14.300 per USD sampai Rp 14.350 per USD,” kata Mikail.
Penulis: Adhito
