
Jakarta, businessnews.id — Ketidaktepatan pemberian subsidi harga BBM (bahan bakar minyak) menyebabkan naiknya ketimpangan pendapatan di Indonesia, yang ditandai dengan naiknya angka Gini Ratio ke 0,41. Selanjutnya, ketidaktepatan itu menyebabkan defisit neraca perdagangan ataupun anggaran.
“Kelanjutannya, itu menurunkan nilai tukar Rupiah,” kata pengamat energi, Marwan Batubara, di Jakarta (19/6/2014).
Marwan mengatakan, kelanjutan dari perlemahan Rupiah adalah inflasi. Selanjutnya, potensi krisis ekonomi Indonesia pun muncul.
Ia pun berkata bahwa pertumbuhan kebutuhan energi nasional mencapai 4% per tahun. Untuk premium, angka itu malah di 8% per tahun.
“Bauran energi kita masih timpang. Energi fosil masih mendominasi. Maka, ketahanan energi kita sangat memprihatinkan.”
Pertambahan kendaraan pengguna BBG (bahan bakar gas) cenderung stagnan. Terus di angka 20.000-an kendaraan, kata dia.
Di samping itu, alokasi gas lebih berorientasi ekspor. “Infrastruktur gas terbatas, dan pembangunannya stagnan.” (Achmad Adhito)
Editor: Achmad Adhito