Jakarta, TopBusiness – Laju pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) di awal pekan ini diperkirakan masih akan mengalami depresiasi. Kondisi ini dipicu makro ekonomi di Uni Eropa (UE) dan China, sehingga membuat USD mengangkasa.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di zona merah ke tangga 14.212,5 atau merosot 45 poi dari penutupan sebelumnya di level 14.177,5.
Menurut analis pasar uang dari Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail, pada perdagangan hari ini Dollar index diperkirakan akan menguat terhadap mata uang utama dunia lainya ke level 96.30-96.5.
“Penguatan USD tersebut didorong salah satunya oleh kemungkinan deflasi pada data harga di level produsen Jerman bulan Desember sebesar -0,1% dibandingkan November sebesar 0,1%,” jelas dia di Jakarta, Senin (21/1/2019).
Selain itu, imbuh dia, jelang rilis data pertumbuhan ekonomi China yang melambat diproyeksi bakal membuat laju USD menguat.
“Pertumbuhan China di triwulan keempat 2018 kemungkinan melambat menjadi 6,4%. Hal itu akan menekan yen Jepang serta mendorong arus modal keluar di pasar modal negara-negara Asia Timur,” ungkap dia.
Dia menegaskan, dengan adanya katalis negatif dari pelemahan inflasi di Zona Eropa dan rendahnya data pertumbuhan ekonomi China tersebut dapat menekan rupiah di awal pekan ini.
“Untuk itu, prediksi saya sepabjang hari ini laju Rupiah kemungkinan akan melemah ke level Rp14.150/USD-Rp 14.200/USD,” tandas Mikail.
Penulis: Tomy
