Jakarta, TopBusiness – Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menilai jika dibandingkan dengan total populasi masyarakat kelas menengah Indonesia yang mencapai 22 persen dari total populasi, jumlah investor reksa dana baru mencapai 1,8 persen.
Sedangkan jJika dibandingkan dengan total populasi penduduk Indonesia jauh lebih kecil hanya 0,4 persen. “Kondisi di atas menunjukkan pada masa depan industri reksa dana masih potensial untuk tumbuh dan dikembangkan baik supply maupun demand,” kata Hoesen di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (22/1/2019).
Meski demikian, kata dia, dari tahun ke tahun industri reksa dana terus menunjukkan pertumbuhan luar biasa. Dalam empat tahun terakhir, total dana kelolaan telah tumbuh lebih dua kali lipat. “Yaitu Rp 242 triliun pada Desember 2014 jadi Rp 505 triliun per Desember 2018,” ujar Hoesen.
Dalam waktu yang sama, kata dia, jumlah produk reksa dana yang diterbitkan manajemen investasi juga meningkat lebih dari dua kali lipat, yaitu dari 895 produk pada Desember 2014 menjadi 2.098 pada Desember 2018.
Hal itu Hoesen sampaikan saat meluncurkan National Campaign Reksa Dana 2019 bersama Dewan Asosiasi Reksa Dana dan Investasi Indonesia dan Asosiasi Bank Agen Penjual Efek Reksa Dana.
Jumlah investor reksa dana pun naik signifikan sejak 2014. Hoesen mengatakan jumlah single investor identification reksa dana meningkat tiga kali lipat dari 320 ribu pada 2014 menjadi 995 ribu di 2018.
“Meskipun peningkatan investor cukup menggembirakan, namun jumlahnya masih jauh dari potensi investor domestik yang sangat besar,” ujar Hoesen.
