Jakarta, TopBusiness – PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) mematok target untuk bisa mengucuri kredit di 2019 naik hingga 35%. Pertumbuhan ini memang lebih rendah dari target 2018 yang naik 40%, namun secara nominal tetap bertumbuh signifikan.
Direktur Utama BRI Agro, Agus Noorsanto, fokus perseroan ke depan tetap mayoritas bisa menyalurkan kredit di sektor agribisnis. Termasuk untuk pembiayaan yang masuk kategori Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Pertumbuhan kredit di 2019 diharapkan minimal bisa naik 35%. Memang secara persentase menurun ketimbang tahun lalu, tapi secara nominal itu bertumbuh signifikan,” ungkap dia di kantornya, Jakarta, Rabu (23/1/2019).
Di 2018 sendiri kemungkinann kredit yang dikucurkan bertumbuh 40% atau sekitar Rp15,34 triliun dari tahun sebelumnya di angka Rp10,9 triliun. “Tahun ini kalau 35% sebesar Rp4,4 triliun. Jadi pertumbuhan tahun ini jumlahnya makin gede sebesar Rp19,74 triliun,” terang Agus.
Untuk realisasi 2018 sendiri, kemungkinan dengan kredit yang naik itu, maka laba bersih juga bisa melonjak di atas 40% dibandingkan 2017. Artinya, laba anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ini akan lebih dari Rp156 miliar di akhir tahun 2018 dari sebelumnya Rp140 miliar.
“Untuk 2018 lalu, kita prognosa aset maupun kredit tumbuh di atas 40% itu sesuai dengan harapan kita. Memang pertumbuhan kami sebagai bank BUKU II cukup signifikan jauh di atas industri,” kata dia.
Pertumbuhan kredit di tahun 2018 tersebut, kata dia, masih ditopang sektor agribisnis yang mencapai 70 persen. Sisanya yang 30 persen dari sektor lain.
“Penopang pertumbuhan kredit kita di segmen kredit menengah terutama di agribisnis ya, seperti kelapa sawit, kelapa dalam, karet, tebu, kopi. Lainnya di sektor penunjang seperti transportasi dan pengangkutan, supply chain juga kita biayai yang terkait agribisnis,” papar Agus.
Kendati agresif menyalurkan kredit, kata dia, perseroan tetap menjaga rasio kredit macet atau non performing loan di angka yang aman di bawah 3 persen.
Perseroan pun berhasil menahan angka kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) dikisaran 3 persen. “NPL masih di bawah 3 persen. Tahun 2017 lalu di 3,2 persen. Dan September 2018 kemarin sempat 2,9. Jadi akan turun sedikit lagi,” ucap dia.
Hingga September 2018 lalu, perseroan berhasil mencatatkan kenaik total aset secara year
on year sebesar 49,05% atau Rp6,9 triliun dari Rp14,0 triliun pada bulan September 2017 menjadi Rp20,9 triliun pada bulan September 2018.
Pertumbuhan ini antara lain didominasi oleh keberhasilan menghimpun dana dan menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk Kredit Yang Diberikan (KYD). Untuk Dana Pihak Ketiag (DPK) sebesar Rp15,8 triliun atau meningkat 53,94% (Rp5,5 triliun) dari Rp10,3 triliun secara yoy.
Untuk portofolio kredit tercatat sebesar Rp13,7 triliun atau meningkat sebesar Rp3,9 triliun (38,87%) dari Rp.9,8 triliun secara yoy. Dengan laba bersih tercatat sebesar Rp166,6 miliar atau meningkat Rp64,8 miliar dari periode yang sama sebelumnya.
Penulis: Tomy
