Jakarta, TopBusiness—Angka NPL (nonperforming loan) di Bank Solo, lebih rendah daripada angka rata-rata nasional kelompok BPR (bank perkreditan rakyat). Pun lebih rendah daripada angka rata-rata NPL BPR di Jawa Tengah.
Hal tersebut dijelaskan Direktur Utama Bank Solo, Agung Riawan, di Jakarta hari ini, dalam tanya-jawab dengan Dewan Juri Top BUMD 2019.
Dia mengatakan, di September 2018, NPL Bank Solo di 1,25 persen. Untuk nasional, angka itu di 7,16 persen. Adapun untuk Jawa Tengah ada di 7,65 persen.
Agung pun menjelaskan bahwa untuk akhir tahun 2018, NPL pihaknya di 1,25 persen. Ini adalah angka gross, bukan net.
Untuk akhir tahun 2017, angka NPL itu di 3,09 persen. Dan ada di 3,65 persen untuk tahun 2016.
Kredit Melati
Agung pun menjelaskan, pihaknya punya kredit dengan tingkat NPL 0 persen. Itu adalah Kredit Melati (Melawan Rentenir).
“Mayoritas debitur kredit tersebut meminjam dengan plafon sekitar Rp 2 juta,” kata Agung.
Adapun komunitas pasar yang dipunyai Bank Solo, ada di 21 pasar tradisional. “Kredit melati ini banyak yang tenor pendek, misalnya lima bulan atau enam bulan,” papar Agung.
Dijelaskan oleh Agung, bunga Kredit Melati rendah, yakni 6 persen. Ini lebih rendah ketimbang bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat).
Sementara, salah satu anggota Dewan Juri Top BUMD 2019, Yudha Wiryawan, merekomendasikan agar Bank Solo menghitung dengan lebih rinci tentang jumlah debitur Kredit Melati yang dulu menggunakan pinjaman dari rentenir.
“Dari sini, bisa diukur pula tentang peningkatan taraf hidup setelah beralih ke Kredit Melati. Misalnya, lebih bisa membiayai sekolah anak karena tidak dibebani bunga rentenir,” ucap Yudha.
(Adhito)
