Jakarta, TopBusiness – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) selama kuartal I-2019 mencatatkan kinerja positif. Hal ini terlihat dari raihan pendapatan dan EBITDA perseroan selama tiga bulan pertama itu.
Tercatat, pendapatan dan EBITDA TBIG masing-masing mencapai Rp1,13 triliun dan Rp965 miliar. “Dan jika triwulan I ini disetahunkan, maka total pendapatan dan EBITDA-nya mencapai Rp4,52 triliun dan Rp3,86 triliun,” CEO TBIG, Hardi Wijaya Liong usai acara Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), di Jakarta, Selasa (21/5/2019).
Dia menegaskan, TBIG juga di kuartal I itu telah memiliki 25.998 penyewaan dan 15.192 sites telekomunikasi. Sites telekomunikasi milik perseroan itu terdiri dari 15.131 menara telekomunikasi dan 61 jaringan DAS.
“Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 25.937, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan menjadi 7,1 kali dari sebelumnya 1,69 kali per akhir tahun lalu,” katanya.
Jadi, imbuhnya, selama triwulan I itu portofolio TBIG bertumbuh sebanyak 510 penyewaan yang terdiri dari 127 sites telekomunikasi dan 383 kolokasi.
“Kami terus mendukung pelanggan operator telekomunikasi kami untuk mengembangkan dalam memperluas jangkauan jaringan mereka dibseluruh negeri,” ujarnya.
Lebih lanjut dia menegaskan, total pinjaman kotor perseroan adalah sebesar Rp19,88 triliun dan total pinjaman senior sebesar Rp12,7 triliun. Ini jika bagian pinjaman dalam mata uang dollar AS itu yang telah dilindungi nilai ukur dengan menggunakan kurs lindung nilai (hedging).
“Dengan saldo kas yang mencapai Rp235 miliar, maka total pinjaman bersih menjadi Rp19,65 triliun dan total pinjaman senior bersih menjadi Rp12,46 triliun,” ucap dia.
Dan dengan menggunakan EBITDA yang disetahunkan itu, kata dia, maka rasio pinjaman senior bersih terhadap EBITDA adalah 3,2 x dan pinjaman bersih terhadap EBITDA adalah 5,1 x.
CFO TBIG, Helmy Yusman Santoso menambahkan, meski pertumbuhan pendapatan grup dipengaruhi oleh penghentian penyewaan dari Internux (Bolt) di akhir Desember 2018, leverage TBIG tetap stabil di 5,1 x.
“Ini jauh di bawah covenant obligasi kami untuk tidak lebih dari 6,25 x untuk rasio pinjaman kotor terhadap EBITDA kuartal terakhir yang disetahunkan,” ujar Helmy.
(Tomy)
