TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GGRM Berharap Cukai Rokok Tak Naik

Busthomi
27 August 2019 | 14:08
rubrik: Business Info
GGRM Berharap Cukai Rokok Tak Naik

Jakarta, TopBusiness – PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melihat, daya tarik produk dan keberadaan rokok di pasar masih positif. Baik dari sisi kualitas maupun ketersediaannya.

Namun begitu, perseroan berharap tarif cukai rokok tak terus menaik. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yak menaik double digit. Kondisi itu terasa penting di tengah kemelut dagang dunia dan peningkatan PDB Indonesia yang relatif rendah selama dua kuartal. Hal itu semua perlu dicermati.

“Setelah mengalami kenaikan double digit pada tahun-tahun sebelumnya, cukai-cukai rokok tidak mengalami kenaikan di tahun 2019. Meskipun demikian, tidak ada jaminan bahwa penangguhan ini akan terus berlanjut,” tutur Direktur Gudang Garam, Istata Taswin Siddharta, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Sejauh ini, kata dia, perseroan berhasil mempertahankan peningkatan pendapatan disertai dengan laba yang menggembirakan di semester pertama 2019 ini. Dari sisi laba atau jumlah penghasilan komprehensif meningkat 20,4% mencapai Rp 4,3 triliun dengan pertumbuhan pendapatan penjualan sebesar 16,4% menjadi Rp 52,7 triliun.

Selain itu, pertumbuhan pendapatan penjualan Perseroan merupakan hasil dari peningkatan volume penjualan dari 40,6 miliar batang menjadi 46,6 miliar batang dan kenaikan harga jual.

“Pasar memberikan respon yang positif terhadap merek-merek sigaret yang berharga lebih ‘hemat’ dalam kategori Sigaret Kretek Mesin Full Flavour (SKM FF),” kata dia.

Makanya, volume penjualan untuk kategori SKM rendah tar nikotin (SKM LTN) mengalami rebound dan volume Sigaret Kretek Tangan (SKT) mengalami sedikit peningkatan dari tahun ke tahun.

Dari sisi kinerja keuangan, kata dia, pendapatan penjualan hingga enam bulan pertama di 2019 mencapai Rp52,7 triliun atau naik 16,4 persen dari periode sebelumnya sebesar Rp45,3 triliun. Dengan volume penjualan mencapai 46,6 miliar batang juga naik 14,8 persen dari 40,6 miliar batang secara yoy.

BACA JUGA:   Dinas ESDM Catat 176 Tambang Ilegal di Jawa Barat

Peroleha laba atau jumlah penghasilan komprehensif juga melambung hingga 20,4 persen dari Rp3,6 triliun menjadi Rp4,3 triliun. Namun untuk marjin laba bruto menurun.

“Penurunan marjin laba bruto dari 19,8% menjadi 18,9% disebabkan oleh beban pokok penjualan yang lebih tinggi dan pergeseran bauran produk secara keseluruhan terhadap merek yang berharga lebih rendah,” ujarnya.

Dia menambahkan, dengan biaya pita cukai, PPN dan pajak rokok meningkat 17,6% menjadi Rp 33,5 triliun, yang merupakan lebih dari 78% dari total biaya pokok penjualan. Sedang beban usaha sebesar Rp 4,1 triliun relatif stabil dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, sementara beban bunga turun 11% menjadi Rp 263,1 miliar.

“Secara keseluruhan, perkembangan di atas menghasilkan kenaikan marjin laba dari 7,8% menjadi 8,1% serta peningkatan Iaba/ atau jumlah penghasilan komprehensif yang sehat,” kata dia.

Lebih jauh Istata menegaskan, di paruh pertama 2019 itu, perseroan menggunakan arus kas dari peningkatan pendapatan penjualan untuk mengurangi jumlah pinjaman jangka pendek.

“Sehingga total liabilitas mengalami penurunan 11,7% dari tahun ke tahun menjadi Rp 22,3 triliun pada 30 Juni 2019. Rasio utang terhadap ekuitas menunjukkan perbaikan, turun dari 61 ,9% menjadi 50,2%,” pungkas dia.

Berdasarkan data riset pasar Nielsen pada saat ini, total volume penjualan industri rokok dalam negeri mengalami penurunan sebesar 8,6% menjadi 118,5 miliar batang untuk tengah tahun pertama 2019.

Total volume penjualan kategori terbesar SKM FF yang merupakan hampir 45% dari total volume penjualan rokok nasional, mengalami sedikit penurunan menjadi 52,9 miliar batang dibandingkan dengan 53,3 miliar batang di periode yang sama tahun 2018.

Adapun total volume penjualan SKM LTN mengalami penurunan lebih dalam, sebesar 16,3% menjadi 39,3 miliar batang dan total volume penjualan SKT juga turun 11 ,8% menjadi 19,8 miliar batang.

BACA JUGA:   PLN KREASI Dorong Kompetensi Siswa SMK di Bidang Kendaraan Listrik

Penulis: Tomy

Tags: GGRMgudang garam
Previous Post

PUPR Butuh Rp 88 T untuk Bangun Infrastruktur Dasar Ibu Kota Baru

Next Post

First Media Gelar eSport Berhadiah Rp 1,3 M

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR