Jakarta, TopBusiness – Gerakan “Nabung Saham Modal Sampah” yang disingkat dengan “AsSALAM” hasil kolaborasi Galeri Investasi Syariah Bursa Efek Indonesia (BEI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, BEI, dan PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) diapresiasi oleh BEI sendiri.
Apalagi, AsSALAM sendiri mampu mencetak rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai kegiatan “Menabung Saham dari Penjualan Sampah oleh Mahasiswa Terbanyak”.
Tercatat, sebanyak 5.000 investor baru berhasil dijaring melalui gerakan “Nabung Saham Modal Sampah” ini. Para mahasiswa pun menggandeng Laboratorium Bank Sampah Syariah (LBSS) FEBI UINSA yang bergerak dalam kegiatan mengubah sampah menjadi uang dan barang yang bernilai ekonomi.
Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi berharap AsSALAM ini mudah-mudahan memberi manfaat yang besar bagi civitas academica dan ke depan pada lingkungan sekitar. “Program ini juga akan menjadi percontohan bagi kampus-kampus lain, agar pengelolaan lingkungan memberikan nilai ekonomi lebih melalui pasar modal,” tandas Hasan dalam keterangan resmi BEI, di Jakarta, Kamis (12/9/2019).
Dia menegaskan, proses ini juga ada keunikan tersendiri yang memberi manfaat lain yang luar biasa. Seperti sumber dana atau modal investasinya juga datang dari kesadaran untuk terus-menerus memastikan lingkungan hidup yang lebih baik. “Jadi dengan mengumpulkan sampah dengan motivasi yang baik ini memastikan lingkungan hidup kita lebih bersih dan terjaga kelangsungannya,” tandas Hasan.
Gerakan ini pun menjadi langkah nyata mendukung kampanye Go Green untuk menyelamatkan bumi dari global warming yang disebabkan penumpukan sampah.
Laboratorium Bank Sampah Syariah (BSS) sendiri bergerak sebagai perantara investor untuk memperoleh uang yang akan diinvestasikan, dengan cara mengubah sampah yang dikumpulkan (didepositkan) mahasiswa setiap harinya menjadi sejumlah uang yang akan disalurkan oleh LBSS ke GIS BEI FEBI UINSA untuk diinvestasikan dalam bentuk saham bagi mahasiswa.
Dengan modal sampah yang dikumpulkan para mahasiswa dapat memperoleh uang yang digunakan untuk menabung saham dengan cara membuka rekening efek di IPOT.
President Director IPOT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The menyebut, gerakan ini telah menjadikan sampah sebagai berkah. Sampah yang kerap dipandang sebelah mata, ternyata memiliki nilai ekonomis jika dikelola dengan benar.
“Apalagi jika nilai ekonomi hasil penanganan sampah secara benar itu tidak diendapkan begitu saja, tetapi ditumbuhkan di pasar modal melalui saham,” tegas dia.
Sebagai perusahaan sekuritas dalam negeri, IPOT sangat mendukung program ini terus berlanjut dan menjadi contoh bagi kampus atau institusi lain.
“Infrastruktur IPOT dengan pembukaan rekening secara full digital mendukung kemudahan akses masyarakat, khususnya civitas akademika UINSA, ke pasar modal. Hal ini tentunya mendukung program pembukaan rekening saham sebanyak 5.000 oleh GIS BEI FEBI UINSA yang hari ini dicatatkan pada rekor MURI,” tandasnya.
Gerakan AsSALAM sendiri diresmikan oleh Anggota Komisi XI DPR RI, Indah Kurnia, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Jawa Timur, Diah Susilowati, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional IV Jawa Timur Heru Cahyono.
Juga selain Hasan Fawzi dan Moleonoto The, ada Direktur Bank Jatim, Rizyana Mirda, Perwakilan MURI, Wida, dan kalangan civitas academica dari UINSA selaku tuan rumah, antara lain, Rektor UINSA Masdar Hilmy, Dekan FEBI UINSA Ali Arifin, dan Ketua GIS BEI FEBI UINSA.
Indah Kurnia menambahkan, AsSALAM ini kata yang indah dan bisa gampang melekat di benak masyarakat. Apalagi pasar modal itu kansnya sangat besar, namun hanya perlu sosialisasi saja dan memberikan literasi dan edukasi yang masif pada masyarakat, pilihan investasi itu bukan hanya perbankan saja.
“Literasi masif ini sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya kampus untuk dapat mengelola keuangan secara bijak. Serta modalnya bisa didapat dari usaha di sekitar, salah satunya pengelolaan sampah,” pungkas dia.
Tomy
