Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi masih akan terbebani seiring masih menguatnya sentiment negatif akibat krisis di Timur Tengah. Meskipun di sesi pagi, laju mata uang Merah Putih itu sempat terliaht menghijau.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di level Rp14.078/USD atau menguat 22 poin dari penutupan hari kemarin di tangga Rp14.100/USD. Namun begitu, optimisme pelaku pasar tak bisa bertahan lama, karena rupiah terus menerus menurun. Dalam satu jam pertama sempat menyentuh level Rp14.082/USD.
Menurut analis pasar uang dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Reny Eka Putri masalah konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah, membuat pelaku asing kembali mengincar dolar AS sebagai aset safe haven. Hal ini dirasa akan sangat membebani laju mata uang Garuda itu.
“Kondisi pelemahan rupiah karena disebabkan sentimen negatif dari konflik serangan drone ke kilang minyak Arab Saudi. Akibat peristiwa tersebut, harga minyak dunia kini naik,” jelas dia di Jakarta, Rabu (18/9/2019).
Situasi yang memanas itu telah membuat harga minyak melambung, sehingga pada akhirnya pelaku pasar melarikan investasinya ke instrument safe haven, salah satunya USD.
Bahkan, dia melanjutkan kondisi konflik tersebut juga bisa membuat pelaku pasar jadi ragu akan langkah penurunan suku bunga AS oleh The Fed yang rencananya akan dilakukan di pekan ini.
Untuk itu, kata Reny, di tengah sikap wait and see pelaku pasar atas keputusan FOMC dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), laju rupiah para perdagangan hari ini pun diproyeksi akan bergerak di kisaran Rp14.080 per USD hingga Rp14.195 per USD.
Di perdagangan hari kemarin, pergerakan rupiah memerah sebesar 0,41% ke Rp14.100 per USD. Sementara, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah juga tercatat melemah 0,57% ke angka yang sama yakni Rp 14.100 per USD.
Penulis: Tomy
