Jakarta, TopBusiness – Seiring maraknya pembangunan infrastruktur di dalam negeri, penyerapan produk baja dirasa kian tinggi. Namun begitu, selama ini banyak produsen baja yang mengeluhkan karena maraknya baja impor.
Kondisi tersebut tetap disikapi positif oleh emiten produsen baja, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP). Menurut Presiden Direktur Raja Paksi, Alouisius Maseimilian, potensi industri baja masih tetap besar seiring tingkat konsumsi baja di dalam negeri yang masih rendah.
“Kondisi industri baja saat ini masih positif karena nfastruktur kita kan cepat. Tentu kebutuhan baja akan naik. Seperti di China waktu ada (penyelenggaraan) Olimpiade kebutuhan baja juga cepat. Industri bajanya berkembang. Dan sekarang over capacity makanya mereka keluar,” terang dia di Jakarta, Kamis (19/9/2019).
Kondisi tersebut, kata dia, membuat produk baja China banyak yang masuk. Sementara di Indonesia pertumbuhannya agak pelan, dan tidak seimbang dengan pertumbuhan investasi di proyek infrastruktur.
Dengan kondisi tersebut, tak aneh jika berdasar data South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI), konsumsi baja per kapita Indonesia paling rendah di antara negara Asean. Ini menunjukkan, Indonesia memiliki prospek usaha yang tinggi karena konsumsinya akan menyamai negara-negara tetangga.
Sedang Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) dan SEAISI memperkirakan konsumsi baja Indonesia akan meningkat dari 57 kg per kapita di 2018 menjadi 84 kg per kapita di 2020. “Dan target itu akan tercapai karena Indonesia akan menikmati dampak berkelanjutan dari pembangunan infrastruktur sejak 2015 lalu,” katanya.
Data SEAISI di 2018, produksi baja nasional tumbuh signifikan sebesar 27,3% dari 7,8 juta mt di 2017 menjadi 10 juta mt di 2018. Namun, hal itu masih jauh dari konsumsi baja nasional yang mencapai 15,08 juta mt di 2018. Hal itu membuat Indonesia jadi negara net importir baja terbesar ke-4 setelah Amerika Serikat, Vietnam, dan Thailand.
“Karena pasar domestik masih besar, kita akan rem ekspor yang sebelumnya mencapai 90 persen. Karena di dalam negeri lebih baik, harga lebih baik, dan delivery lebih gampang,” katanya.
Di tahun lalu, perseroan sudah melakukan ekspor ke Australia, Selandia Baru, Malaysia, Filipina, Singapura, dan AS. “Tahun lalu porsi pasar domestik 96% dan ekspor 4,26%. Sekarang 100 persen domestik,” terangnya.
Makanya, dia melihat pemain industri baja di Indonesia masih memiliki peluang yang sangat luas untuk bertumbuh. “Jadi dengan GDP di 5,07 persen, dan terus bertumbuh, maka konsumsi baja per kapita juga ikut tumbuh. Apalagi dengan meningkatnya anggaran infrastruktur akan mendorong konsumsi baja nasional,” pungkasnya.
Penulis: Tomy
