Jakarta, TopBusiness – Emiten di sektor kimia, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) mengalami penurunan kinerja sepanjang semester I-2019 ini. Tercatat di paruh pertama itu, perseroan mengalami penurunan pendapatan sebesar 18,07 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 1,05 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 1,29 miliar.
Menurut Direktur Chandra Asri Petrochemical, Suryandi pendapatan bersih yang lebih rendah sebagian besar dipicu harga jual rata-rata produk yang lebih rendah. Ini terutama terjadi untuk produk ethylene dan polyethylene.
Untuk harga ethylene turun dari US$ 930 per metrik ton pada kuartal I/2019, menjadi US$828 per metrik ton pada kuartal II/2019. Hal ini didorong pasar yang sepi karena liburan di China dan Jepang, serta momen Idul Fitri di beberapa negara muslim di Asia Tenggara. Sehingga permintaan lebih lemah secara keseluruhan dan pasokan yang cukup dengan beberapa pemadaman unit hilir.
Sementara itu, harga polyethylene turun menjadi US$ 1.094 per metrik ton pada periode April-Juni 2019. Harga polyethylene yang lebih lemah didorong oleh sepinya aktivitas perdagangan selama musim liburan, ketidakpastian karena ketegangan perdagangan AS-China, dan persediaan yang cukup.
“Dengan kondisi itu, menunjukkan kinerja keuangan kami selama paruh pertama 2019, mencerminkan moderatnya margin petrokimia global. Sebab penambahan kapasitas, pelemahan permintaan, dan ketidakpastian yang disebabkan oleh ketegangan perdagangan AS-China,” tutur dia seperti dikutip dalam keterbukaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (25/9/2019).
Penurunan beberapa unsur itu, membuat pendapatan segmen olefin (untuk jenis ethyelen) mencapai US$390,69 juta atau berkontribusi 32,92 persen terhadap jumlah pendapatan sebelum eliminasi sebesar US$1,19 juta pada semester I-2019. Sedang pendapatan segmen olefin dalam paruh pertama tahun ini, menyusut 24,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang sebesar US$ 519,74 juta.
Adapun polyethylene masuk dalam segmen polyolefin. Pendapatan di segmen ini mencapai US$486,16 juta atau berkontribusi 40,96 persen terhadap jumlah pendapatan sebelum eliminasi sebesar US$1,19 juta pada semester I-2019.
“Pendapatan segmen polyolefin dalam paruh pertama tahun ini, terpangkas 16,53 persen dibandingkan dengan capaian semester I-2018, telah menyentuh US$ 582,42 juta,” ujar dia.
Sedangkan untuk volume penjualan keseluruhan stabil secara tahunan yakni 1.059 KT pada semester I/2019, dibandingkan semester I/2018 sebesar 1.067 KT. Kapasitas pabrik diklaim memuaskan pada tingkat 100 persen di pabrik hulu dan hilir.
EBITDA perseroan juga turun 46,3 persen menjadi US$ 125 juta terutama disebabkan margin petrokimia yang lebih rendah didorong moderatnya margin kimia. Sehingga laba bersih setelah pajak pun anjlok 71,1 persen menjadi US$ 33,3 juta dari posisi semester I-2018, yang mencapai US$115,5 juta.
Dan laba bersih setelah pajak juga mencerminkan bagian rugi bersih entitas asosiasi sebesar US$8,5 juta, yang timbul dari usaha patungan di PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI) saat peningkatan operasi.
“Untuk itu, di dalam negeri, kami terus mengamati permintaan yang kuat didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil. Tingkat operasi kami memuaskan pada tingkat 100 persen di seluruh pabrik hulu dan hilir,” tuturnya.
Penulis: Tomy
