Jakarta, TopBusiness – Presiden Joko Widodo yang baru dilantik tengah menyusun kabinet barunya dengan memanggil beberapa tokoh ke Istana Negara. Rencananya, kabinet baru itu pada Rabu (23/10/2019) besok akan diumumkan.
Tentu saja bagi pelaku pasar, mereka sangat menanti bagaimana komposisi tim ekonomi Jokowi di periode kedua ini. Mengingat tantangan ekonomi lima tahun ke depan sangat kompleks.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank CIMB Niaga Tbk, Adrian Panggabean, sejauh ini para pelaku pasar meminta ada perubahan atau reformasi ke depannya.
“Sehingga nantinya dari tim ekonomi Jokowi itu ada outcome yang berubah untuk perekonomian yang lebih baik,” tutur Adrian di Jakarta, Selasa (22/10/2019).
Untuk itu, dalam hal ini ada tiga hal yang perlu dipenuhi di tim ekonomi tersebut. Pertama, ada thinking process yang berubah, kedua, business process yang berubah, dan ketiga tim ekonomi yang berubah.
Menurutnya, jika pada akhirnya ada orang-orang lama yang kembali dipilih, maka dibutuhkan pemikiran dan proses bisnis yang berubah ketimbang sebelumnya.
Nah dalam hal ini, kata dia, ada perbedaan dibanding negara maju. Ada peran dari politicial appoinmentsi calon menteri itu yang kurang lebih sebagai jembatan aspirasi tenis ke aspirasi politik.
“Sementara di kita itu tak cukup dengan aspirasi politik. Justru dibuthkan pengetahuan birokrasi dana spek teksnis di situ bagi calon menteri (ekonomi),” kata dia.
Makanya dalam hal ini, disebut Adrian, ada empat hal yang dibutuhkan yakni jembatan politik, kemampuan teknis, kemampuan menjalankan birokrasi, dan kemampuan teknis penyerapan aspirasi itu.
“Dari hal itu semua, saya rasa sejauh ini reaksi market masih mix response. Tapi respon yang positif ya. Kita berikan spirit positif untuk lebih maju lagi,” tutur dia.
Seperti diketahui, di hari kedua pemanggilan calon menteri ke istana salah satunya yang bakal menduduki posisi menteri adalah Sri Mulyani Indrawati. Dia diperkirakan akan kembali menjabat Menteri Keuangan.
Sri Mulyani sendiri dipanggil Jokowi pada pagi tadi dan ternyata bereaksi positif ke pasar. Hingga pukul 10.30 WIB tadi, net sell atau aksi jual asing mulai mereda ketimbang hari kemarin.
Berdasar data Bursa Efek Indonesia (BEI), tercatat hanya sebesar Rp33,46 miliar dibanding kemarin yang mencapai Rp45,95 miliar di pasar reguler. Dan di semua pasar, asing masih net sell sebesar Rp51,92 miliar.
Sedang kemarin, net sell di semua pasar mencapai Rp58,09 miliar. Dengan demikian, net sell asing secara year to date memang masih tinggi hingga Rp18,97 triliun.
Penulis: Tomy
