TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ekonomi Syariah Bisa Perkuat Struktur Neraca

Agus Haryanto
12 November 2019 | 17:11
rubrik: Ekonomi
BI Inisiasi Usaha Induk Pesantren

sumber: bi.go.id

Jakarta, TopBusiness – Bank Indonesia (BI) terus menggenjot sektor keuangan syariah di perbagai bidang. Hal ini tak lepas dari potensi perekonomian syariah yang masih sangat besar dan prospektif untuk dikembangkan. Apalagi sejauh ini, sebanyak 80 persen dari perekonomian RI telah memenuhi prinsip-prinsip ekonomi syariah.

Demikian disebutkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia ( BI) Dody Budi Waluyo, dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Menurut dia, dengan kondisi Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini yang mencapai USD 1 triliun-an, maka sekitar 80 persennya atau setara USD 800 miliar sudah menerapkan prinsip syariah. Sehingga potensi perekonomian syariah di Indonesia dinilai harus terus ditingkatkan. “Terkait Indonesia dengan nilai PDB 1 triiun dolar AS itu, ukuran ekonomi syariah Indonesia itu 80 persennya. Jadi sudah besar dan akan terus membesar,” tutur Dody.

Untuk diketahui, jika dikonvesi ke dalam rupiah, maka USD 1 triliun itu setara dengan Rp 11.245 triliun (dengan asumsi kurs di posisi Rp 14.057 per dolar AS).

Menurut dia, jika sistem perekonomian syariah ini dikembangkan dengan benar, maka bakal berdampak positif terhadap perekonomian nasional dan juga bisa menjaga struktur transaksi neraca berjalan yang hingga kini masih minus.

“Keuangan dan juga ekonomi syariah memiliki potensi besar untuk jadi sumber ekonomi, sekaligus juga untuk meningkatkan struktur neraca saat ini. Ekonomi syariah bisa jadi sumber ekonomi baru, tidak hanya bagi mayoritas penduduk Islam, tapi juga negara lain dengan mayoritas penduduk yang bukan Islam,” papar dia.

Kendati potensinya besar dan sudah dilakukan secara besar-besaran, disebut Dody, Indonesia belum optimal dalam mengembangkan industri keuangan dan perekonomian syariah. Indonesia masih menjadi konsumen, bukan produsen, di dalam rantai industri ekonomi syariah global tersebut. “Karena optimalisasi itu masih rendah dari zakat, infak, sedekah, wakaf untuk dorong pertumbuhan ekonomi,” jelas Dody.

BACA JUGA:   Perkuat Transformasi Beyond Mortgage, BTN Salurkan 6 Juta KPR Senilai Rp530 Triliun

Lebih jauh lagi, BI juga menyoroti peran pembiayaan termasuk dari perbankan syariah yang sejauh ini maih rendah. Dody menilai, baik dari pemerintah dan BI telah mendorong kinerja pembiayaan syariah.

Padahal dari sisi permintaan, pembiayaan syariah juga dinilai diminati oleh penduduk Indonesia. Ditambah lagi, saat ini dunia tengah dihadapkan pada kondisi ketidakpastian. Sehingga diharapkan, keuangan dan ekonomi syariah bisa jadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru.

 

Tomy Asyari

Previous Post

IHSG Terkena Technical Rebound

Next Post

Komitmen Kerja Jambi Merang dalam Satu Dekade

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR