Jakarta, TopBusiness – Salah satu BUMN konstruksi, PT Adhi Karya (Persero) Tbk kembali menambah kontrak baru di tahun ini. Hingga akhir November 2019, perseroan sudah mengantongi kontrak baru sebesar Rp 9,1 triliun.
Namun begitu, angka tersebut masih sangat jauh dari target kontrak baru perseroan di tahun ini yang mencapai Rp30 triliun. Meski perseroan sendiri masih dalam rencana merevisi target kontrak baru itu.
Berdasarkan keterbukaan informasi ADHI yang dilansir PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (9/12/2019), dari kontrak baru selama November tahun ini tersebut yang terbesar berasal dari proyek pengaman pantai di Kota Palu, Sulawesi Tenggara dan pembangunan rumah susun di Penjaringan Jakarta.
“Kontrak baru selama November 2019 itu didominasi dari proyek pengaman pantai di Palu nilainya sebesar Rp248,2 miliar, sementara pembangunan rusun di Penjaringan sebesar Rp221,3 miliar,” tegas laporan tersebut.
Sementara itu, untuk kontribusi per lini bisnis pada perolehan kontrak baru di November 2019 itu, meliputi lini bisnis Konstruksi dan Energi sebesar 81,4 persen, Properti sebesar 18,2 persen dan sisanya merupakan llini bisnis lainnya.
Untuk berdasarkan tipe pekerjaan, perolehan kontrak baru terdiri dari proyek gedung sebesar 72,2 persen, jalan dan jembatan sebesar 6,5 persen serta proyek infrastruktur lainnya, seperti pembuatan bendungan bandar udara, jalan kereta api dan proyek-proyek EPC sebesar 21,3 persen.
Selain itu, laporan dalam keterbukaan informasi ADHI juga menyebutkan, berdasarkan segmentasi sumber dana, realisasi kontrak baru dari pemerintah di kisaran 22,8 persen, swasta sebesar 11,5 persen, dan tertinggi dari BUMN yang mencapai 65,7 persen.
Sebelumnya, pihak perseroan ADHI sendiri telah mengakui target kontrak baru di tahun ini tak akan tercapai. Perseroan pun tengah merevisi target tersebut.
Direktur Keuangan ADHI, Entus Asnawi mengatakan perseroan bakal merevisi target akhir tahun. Pasalnya, diklaim dia, secara siklus proses tender proyek infrastruktur pada tahun politik mengalami penurunan dan akan kembali bergairah setelahnya.
“Revisinya [target kontrak baru] kemungkinan sekitar 10 persen hingga 15 persen,” tandas Enthus.
Dengan revisi tersebut, dia mengaku ada pengaruh ke pendapatan akhir tahun perseroan. Makanya, dengan melihat situasi tender proyek infrastruktur yang melambat itu, kini perseroan pun banyak menggarap proyek-proyek pembangunan gedung.
Penulis: Tomy
