Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan Jumat (13/12/2019) atau akhir pekan ini diperkirakan masih akan melanjutkan penguatannya. Namun meski masih akan positif, laju rupiah sendiri diproyeksi relative melaju datar.
Mengutip Bloomberg pagi ini, geliat mata uang Garuda di pasar spot terlihat mernghijau. Tercatat, rupiah dibuka di level Rp14.015 per USD atau menguat 17,5 poin dari penutupan kemarin di posisi Rp14.032,5 pere USD. Sementara hingga satu jam pertama, rupiah kian perkasa ke tangga Rp13.969 atau terapresiasi 63,5 poin alias 0,45%.
Penguatan rupiah ini memang lebih dipicu sentiment dari bank sentral AS The Federal Reserve. Menurut Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual keputusan The Fed mempertahankan suku bunga masih akan mempengaruhi pergerakan rupiah.
“Karena suku bunga AS tak berubah, mata uang emerging market, termasuk rupiah, juga relatif bergerak datar,” tutur dia di Jakarta, Jumat (13/12/2019).
Selain masalah suku bunga The Fed fund rate, pelaku pasar juga masih mewaspadai perkembangan perang dagang China dan AS. Pelaku pasar menanti apakah Negara Paman Sam itu bakal menaikkan tarif impor bagi barang asal Tiongkok itu pada 15 Desember nanti atau tidak.
Seperti sudah diperkirakan sebelumnya, bank sentral AS tersebut mengambil kebijakan untuk menahan suku bunga acuan. Karena itu, kemarin kurs rupiah cenderung bergerak stagnan.
Kurs spot rupiah cuma menguat tipis 0,04% jadi Rp 14.033 per USD. Sementara kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) melemah 0,12% ke Rp 14.042 per USD.
Dengan kondisi tersebut, David meramal pergerakan kurs rupiah pada hari ini bakal berada di kisaran Rp 14.000-Rp 14.080 per USD.
Penulis: Tomy
