Petani kopi di Indonesia saat ini belum merasakan dampak menjamurnya kafe atau kedai kopi di penjuru Tanah Air. Harga kopi kering di daerah sentra penghasil kopi nasional masih cukup rendah.
Semerbak wangi kopi menguar begitu kami memarkir kendaraan di depan sebuah kafe yang ada di Desa Kutawis pada suatu petang, belum lama ini. Desa kecil ini bukan ibu kota kecamatan ataupun dekat ibu kota kabupaten. Jaraknya sekitar 30 kilometer ke arah timur dari pusat kota Purbalingga, salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Namun, di kafe atau kedai kopi bernama Domisili Coffee ini selalu ramai dengan anak muda menjelang sore atau malam hari. Mereka tak sekadar menikmati kopi, tapi juga memenuhi tuntutan gaya hidup kaum milenial saat ini.
Gaya hidup ‘ngopi’ di kafe nyatanya kini tidak saja menjalar kaum milenial di kota-kota besar, tapi juga di pelosok negeri ini. Kafe atau kedai kopi menjamur bak cendawan di musim hujan. Kondisi itulah yang mendongkrak serapan kopi produksi dalam negeri yang menurut data Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) saat ini mencapai 25-30%. Angka itu lebih tinggi dari realisasi serapan kopi dalam negeri pada 2018 yang berkisar 18-20%. Sampai akhir tahun 2019 ini, SCAI bahkan memprediksi angka penyerapannya bisa naik ke level 35-40%.
Kontribusi bisnis kedai kopi terhadap serapan produksi kopi dalam negeri akan terus tumbuh seiring dengan menjamurnya bisnis tersebut. “Ini karena pada akhirnya jual seduhan kopi di kedai lebih asyik dan peminum kopi Indonesia lebih senang menikmati minuman kopi yang lebih enak di kedai kopi sambil melakukan kegiatan lain daripada kopi instan atau sachet dengan harga yang relatif terjangkau karena kedai-kedai kopi juga memasang tarif yang cukup kompetitif,” ujar Chairman SCAI Syafrudin, akhir November 2019 lalu.
Syafruddin mengaku tidak memiliki data pasti jumlah keda kopi di Indonesia karena saat ini bisnis ini ada di setiap kota hingga ke desa-desa. Namun yang pasti, berkembangnya budaya ‘ngopi’ di kalangan anak muda ini jelas mengungkit angka konsumsi kopi nasional. Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan), konsumsi kopi nasional pada 2016 mencapai sekitar 250 ribu ton dan tumbuh 10,54% menjadi 276 ribu ton. Konsumsi kopi Indonesia sepanjang periode 2016-2021 diprediksi tumbuh rata-rata 8,22% per tahun.
Pada 2021, pasokan kopi diprediksi mencapai 795 ribu ton dengan konsumsi 370 ribu ton, sehingga terjadi surplus 425 ribu ton. Sekitar 94,5% produksi kopi di Indonesia dipasok dari perkebunan rakyat. Adapun 81,87% produksi kopi nasional merupakan jenis robusta yang berasal dari sentra kopi di Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Sampai dengan tahun ini, tidak kurang dari 21 jenis kopi telah memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis sebagai produk berkualitas dan spesifik (cofee specialty). Dengan data itu, Indonesia merupakan negara dengan jumlah keragaman kopi specialti terbanyak di dunia.
Sementara itu, areal kebun kopi di Indonesia berdasarkan catatan Kementan mencapai 1,25 juta hektare, yang terdiri atas kopi robusta (0,91 juta ha atau 73 persen) dan arabika (0,34 juta hah atau 27 persen). Baik kopi robusta maupun arabika, sebagian besar dikelola petani (96 persen untuk robusta dan 96,5 persen untuk arabika).
Nasib Petani Kopi
Masalahnya, luasan kebun kopi yang dikelola setiap keluarga petani di Indonesia umumnya relatif sempit. Rata-rata lahan yang dikelola sekitar 0,71 hektare per keluarga untuk robusta dan 0,58 hektare per keluarga untuk arabika. Idealnya, luas minimal kebun kopi yang dikelola setiap keluarga petani adalah 2,69 hektare per keluarga untuk kopi robusta dan 1,44 hektare per keluarga untuk kopi arabika.
Selain itu, harga kopi dalam dua tahun terakhir juga tidak stabil, bahkan cenderung turun. Tahun 2018 lalu, harga kopi kering di tingkat petani masih di angka Rp 40 ribu per kilogram (Kg). Saat ini, harga komoditas ini di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabar), Lampung, salah satu sentra kopi di Indonesia, turun menjadi di kisaran Rp 10 ibu hingga Rp 17 ribu per Kg.
“Sekitar setahun lalu harga kopi kering dijual dengan harga Rp 40 ribu per kilogramnya. Namun saat ini harga kopi turun drastis jadi Rp 12 ribu lebih per kilogram,” kata Arfan (35), salah seorang petani kopi di Desa Mandala Jaya seperti dikutip media lokal, Selasa (19/11/2019).
Arfan mengaku tidak tahu pasti penyebab turunnya harga kopi saat ini. Kata dia, saat ditanya ke para tengkulak, mereka mengatakan turunnya harga kopi saat ini karena banyaknya pasokan kopi di petani. Daerah penghasil kopi di luar Provinsi Lampung saat ini juga sedang panen serentak.
Akibat murahnya harga kopi, Kepala Desa Mandala Jaya, Suhaili, kepada wartawan mengutarakan, warga desanya saat ini tidak lagi bersemangat untuk menanam kembali kopi-kopi milik mereka yang sudah tua. Hal ini mengingat harga upah tanam dan upah panen saat ini tidak lagi sebanding dengan harga jual.
Suhaili dan para petani kopi lain berharap bantuan pemerintah setempat agar dapat kembali menstabilkan harga. “Ya kalau bisa ada solusi dari pemerintah, harapan saya mewakili para petani harga kopi distabilkan lagi diangka Rp 40 ribu perkilogramnya,” ujar dia.
Tidak hanya di Desa Mandala Jaya, nasib serupa juga dirasakan petani kopi di Kelurahan Mekar Jaya, Lampung. “Nasib petani saat ini tidak sesemerbak aroma kopi. Harus ada keseriusan pemerintah daerah untuk menaikkan harga kopi ini,” ujar Yumi, petani kopi dari Desa Mekar Jaya.
