Jakarta, TopBusiness – Laju nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diperkirakan bisa kembali menguat, meski masih menanti sentiment positif dari global. Di perdagangan pagi, rupiah sudah membuktikan kekuatannya, walaupun kemudian kembali lunglai.
Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp13.655 per USD atau menguat tipis 5 poin dari penutupan kemarin di tangga Rp13.660. Namun selaunjutnya, mata uang NKRI itu mulai lunglai dan jatuh ke level Rp13.671 dalam 1,5 jam pertamanya itu. Hal itu sama saja dengan terdepresiasi sebesar 0,08% atau 11 poin.
Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, analis pasar uang dari Binaartha Sekuritas menilai, sejatinya rupiah masih bisa terus menguat, hal ini dikarenakan masih minimnya data makroekonomi AS saat hari libur US President’s Day itu. Untuk itu, kondisi tersebt dirasa positif bagi pasar uang di emerging market, termasuk rupiah.
“Minimnya data makroekonomi AS itu telah memberikan high market impact atau dampak besar terhadap pasar) pasca hari libur US President’s Day,” kata Nafan di Jakarta, Selasa (18/2/2020).
Tak hanya sentiment dari Negeri Paman Sam, pasar juga disebut Nafan masih menanti Bank Sentral China yang telah memberikan sentimen positif dengan menyuntikkan likuiditas untuk menggerakkan perekonomian negara tersebut. Pasalnya, negara itu terancam dari risiko perlambatan ekonomi akibat penyebaran wabah virus corona.
Nafan melihat, dari sisi pola downward bar pada daily chart itu terlihat sudah terbentuk. Hal ini mengindikasikan adanya potensi apresiasi rupiah terhadap dolar AS di perdagangan hari ini. “Untuk itu, saya prediksi laju rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.645 hingga Rp13.730 per USD di rentang apresiasi,” tutup Nafan.
