Jakarta, TopBusiness – PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum atau Perseroan) mempublikasikan laporan keuangan teraudit untuk tahun fiskal 31 Desember2019.
Dalam laman londonsumatera.com, di Jakarta, terlihat bahwa sepanjang tahun lalu, produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti turun 3,2% secara tahunan (yoy) menjadi 1.466.288 ton, seiring dengan kegiatan penanaman kembali. Diiringi dengan kontribusi TBS eksternal yang lebih rendah maka total produksi CPO turun 12,1% yoy menjadi 398.188 ton.
Lonsum mencatat kinerja keuangan pada kuartal keempat 2019 (4Q2019) dengan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp201 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan periode 4Q2018 dan periode 3Q2019 terutama karena pemulihan harga CPO yang kuat pada 4Q2019.
Sepanjang tahun lalu, volume penjualan CPO yang lebih rendah dan harga jual rata-rata (ASP) dari produk sawit (CPO, PK dan produk turunan PK) berdampak pada total penjualan dan profitabilitas Lonsum. Volume penjualan CPO turun 4,2% yoy menjadi 417.533 ton, sedangkan volume penjualan PK dan produkturunanPK meningkat 10,6% yoy menjadi 124.908 ton. ASP CPO dan PK turun masing-masing 2% yoy dan 43% yoy.
Penjualan Lonsum di FY2019 mencapai Rp3,70 triliun, turun 8% yoy, sementara itu laba kotor dan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik induk turun 17,8% yoy dan 23,4% yoy masing-masing menjadi Rp561,6 miliar dan Rp253,9miliar.
Produk sawit berkontribusi sekitar 92% dari total penjualan, diikuti karet dan benih masing-masing sekitar 5% dan 1%. Pada 2019, Lonsum mempertahankan total aset Rp10,23triliun termasuk posisi kas Rp1,13 triliun pada 31 Desember 2019 dan dengan tidak adanya pendanaan melalui utang (funded debt).
Benny Tjoeng, Presiden Direktur Lonsum mengatakan, “Pada FY2019, Lonsum menghadapi harga komoditas yang rendah terutama harga produk sawit yang mempengaruhi kinerja Perusahaan. Namun demikian pada 4Q2019, Lonsum mencatat kinerja keuangan yang solid dengan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp201 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan periode 4Q2018 dan periode 3Q2019 terutama karena pemulihan harga CPO yang kuat pada 4Q2019,” katanya.
“Pemulihan harga CPO yang kuat dari posisi terendah pada pertengahan 2019 didorong oleh pertumbuhan produksi yang lebih rendah dan permintaan yang kuat terutama permintaan untuk mandat biodiesel B30 di Indonesia yang dimulai bulan Januari 2020. Hal ini diharapkan akan mendukung harga CPO ke depan.Industri perkebunan diperkirakan akan tetap kompetitif dan menantang, kami terus memperkuat posisi keuangan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya serta berfokus pada praktik-praktik agrikulturyang baik.“
Foto: Istimewa
