Jakarta, TopBusiness – Kinerja PT PP Presisi Tbk (PPRE) sepanjang 2019 lalu masih menunjukkan kondisi yang berat. Kendati begitu perseroan masih berhasil membukukkan laba bersih di tahun lalu. Dari laporan keuangan yang sudah diaudit, tercatat laba tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk hingga akhir 2019 menjadi Rp331,3 miliar atau naik tipis 1,5% dari tahun 2018 lalu di angka Rp326,4 miliar atau secara year on year (yoy).
Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan di Jakarta, Rabu (18/3/2020).
Dari kinerja di 2019 lalu itu, menurut data tersebut, anak usaha dari PT PP (Persero) Tbk itu berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 26,3% menjadi Rp3,9 triliun dari sebelumnya secara tahunan di angka Rp3,05 triliun.
“Peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan kontrak baru sebesar Rp5,9 triliun yang sebagian besar berasal dari proyek jalan tol Indrapura-Kisaran, proyek pembuatan jalan tambang batubara Kalimantan Tengah-Kalimantan Timur, dan proyek bandara Kediri, Jawa Timur,” demikian bunyi keterbukaan perseroan tersebut.
Untuk jumlah penghasilan komprehensif yang dapat diditribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat menurun per akhir Desember 2019 itu. Dari sebelumnya di angka Rp345,8 miliar menjadi sebesar Rp333,8 miliar. Sedang untuk laba per saham sebesar Rp32 per saham atau angka stagnan dari tahun lalu yang tetap berada di posisi itu. Dengan Ebitda perseroan sebesar Rp1,18 triliun dari sebelumnya Rp926,9 miliar secara yoy. “Dengan begitu marjin ebitda PPRE bertumbuh hingga 30,8%,” katanya.
Posisi asset perseroan sendiri berada di level Rp7,76 triliun per akhir 2019 itu dari sebelumnya berada di level Rp6,25 triliun. Dengan rincian, asset lancar sebesar Rp4,54 triliun dan aset tak lancar di angka Rp3,21 triliun. Sementara posisi ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat dari Rp2,28 triliun di akhir 2018 menjadi Rp2,51 t secara yoy.
Namun sayangnya, posisi liabilitas perseroan juga ikut meningkat menjadi Rp4,59 triliun dari sebelumnya di posisi Rp3,41 triliun secara tahunan. Dengan rincian, posisi liabilitas jangka pendek sebesar Rp3,43 triliun dan liabilitas jangka panjang hanya Rp1,16 triliun. “Sehingga posisi debt to equity ratio (DER) berada di angka 1,5 kali,” tandasnya.
