Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini masih diproyeski masih akan melanjutkan pelemahannya. Namun begitu, kabar perekonomian China yang mulai bangkit dirasa bisa menjadi sentiment positif.
Mengutip Bloomberg pagi ini, laju rupiah dibuka di level Rp16.325 per USD atau melemah 15 poin dari penutupan kemarin di tangga Rp16.310 per USD. Mata uang Merah-Putih itu pun masih memerah dalam 30 menit pertama yang tecatat ke posisi Rp16.377,5 atau melemah 0,41% atau 67,5 poin.
Menurut Direktur PT Garuda Berjangka, Ibrahim pergerakan mata uang NKRi itu bakal dipicu oleh pulihnya ekonomi China pasca penyebaran virus corona di negeri asalnya itu. Selanjutnya, sentiment stimulus fiskal AS dan kebijakan pembatasan sosial berskala besar dari pemerintah dirasa bisa menguatkan rupiah.
Disebut dia, penguatan ekonomi China bisa menjadi kabar gembira. Dilaporkan, Biro Statistik Nasional Negeri Tirai Bambu itu yakni untuk Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur periode Maret sebesar 52.
“Itu berarti melonjak drastis dibandingkan bulan sebelumnya yang di angka 35,7 sekaligus menjadi catatan terbaik sejak September 2017 itu,” terang dia di Jakarta, Rabu (1/4/2020).
Lonjakan PMI itu bisa menjadi indikator industri manufaktur China sudah bangkit setelah dihantam virus tersebut. PMI itu menggambarkan pembelian bahan baku/penolong dan barang modal yang digunakan untuk proses produksi pada masa mendatang. Tak hanya manufaktur, PMI sektor jasa juga meroket dari 29,8 menjadi 52,3.
Selain itu, kata dia, pasar kembali menaruh harapan besar terhadap stimulus fiskal, terutama di AS. Salah satu program dalam stimulus tersebut adalah bantuan untuk pengembangan vaksin virus corona. Tercatat, Presiden AS Donald Trump melalui paket stimulus fiskal bernilai US$ 2,2 triliun.
Sementara, dari internal, Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan status darurat kesehatan masyarakat . Ini dilakuukan pemerintah untuk menanggulangi wabah Covid-19.
“Dengan kebijakan tersebut diambil setelah menetapkan Covid-19 sebegai jenis penyakit dan faktor risiko yang menimbulkan kedaruratan masyarakat. Makanya, dengan kondisi itu, pergerakan Rupiah diprediksi berada di rentang pelemahan Rp16.250 hingga Rp16.400,” tandas Ibrahim.
