Jakarta, TopBusiness—Kini nilai tukar Rupiah ke USD cenderung stabil. Dan cenderung menguat ke Rp 15.000 pada akhir tahun ini. “Ada empat faktor pendukung penguatan tersebut,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Onny Widjanarko, di Jakarta melalui keterangan tertulis hari ini.
Faktor pertama, kata dia, adalah bahwa secara fundamental, nilai tukar Rupiah masih undervalued, didukung oleh defisit transaksi berjalan triwulan I akan lebih rendah dari 1,5% PDB. Dan secara keseluruhan pada tahun 2020 akan lebih rendah dari 2% PDB.
“Penurunan defisit transaksi berjalan tersebut berarti bahwa kekurangan devisa akan lebih rendah sehingga mendukung penguatan nilai tukar Rupiah ke arah fundamentalnya,” kata Onny.
Faktor kedua, Bank Indonesia akan selalu berada di pasar dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. “Faktor ketiga, arus modal asing diprakirakan akan masuk ke Indonesia. Secara historis periode 2011–2019 di Indonesia, outflow relatif kecil dalam periode yang pendek dan diikuti dengan inflow yang besar dalam periode yang panjang.”
Data menunjukkan rata-rata outflow sebesar Rp29,2 triliun dengan durasinya sekitar tiga-empat bulan, dan diikuti inflow sebesar Rp229,1 triliun dengan durasi sekitar 21 bulan.
Faktor keempat, adalah premi risiko yang diprakirakan akan menurun setelah pandemi Covid-19 berakhir.
Sumber Ilustrasi: Istimewa
