Jakarta, TopBusiness – PDAM Giri Nawa Tirta Kabupaten Pasuruan atau lebih dikenal PDAM Kabupaten Pasuruan mempunyai kebanggaan dalam pengelolaan sumber daya manusia melalui penerapan human capital management system.
Direktur PDAM Kabupaten Pasuruan, Za’ari, dihadapan dewan juri TOP BUMD Awards 2020 melalui aplikasi online zoom meeting, hari ini, menyatakan bahwa dirinya sangat mengedepankan soal penerapan sistem dalam tata kelola manajemen sumber daya manusia atau SDM.
“Yang kami banggakan cuma satu yakni kami sudah melaksanakan human capital management by systems saat bekerja. Ini kami banggakan,” ujarnya.
Dengan penerapan human capital management system ini diharapkan SDM lebih profesional. Selanjutnya dapat menjadikan kebanggaan bagi diri mereka masing-masing, sebab bisa bermanfaat di lingkungan sekitar.
“Harapan kami teman-teman juga dapat merasa bangga dan juga bisa merasakan bagaimaan enaknya jadi orang profesional. Itu sangat-sangat berharga buat lingkungan sekitarnya. Ini kami tanamkan hingga saat ini. Dan buat kami ini bangga,” kata Za’ari.
Karenanya, perseroan lebih mengunggulkan dalam peningkatan profesionalitas melalui sistem yang telah berjalan selama ini. Dalam pandangan dia, pencapaian target kebocoran, pendapatan atau mungkin target terkait dengan pencapaian coverage area itu sudah biasa dilakukan PDAM. “Tapi dalam hal ini kami lebih cenderung, secara pribadi, lebih mengembangkan karyawan dimana merasa bangga. Karyawan juga merasa memiliki perusahaan,” katanya.
Meskipun begitu diakuinya, saat merubah budaya kerja yang ada sebelumnya ke human capital management system ini tidak mudah dalam rangka pengembangan produktivitas dan profesionalitas SDM. “Nah ini kami tanamkan dengan budaya-budaya, yang mana human capital management adalah budaya baru. Budaya dengan menggunakan sistem. Kita menilai melalui kPI (Key Performance Indikator-Red)”.
Perseroan memiliki total karyawan mencapai 130 orang, dan rasio karyawan dibandingkan dengan pelanggan sekitar 5. Angka itu terbilang bagus, sebab standarnya 8.

Dia juga menyatakan bahwa dalam menjalankan roda bisnis, perseroan dihadapkan pada beberapa kendala. “Kendala kami adalah pertama masyarakat sendiri. Nah saat ini, karena budaya dengan menggunakan sumur lebih murah menurut mereka. Itu yang perlu kami sadarkan. Sumur tanah gratis. Mereka merasa lebih diuntungkan,” katanya.
Untuk memecahkan persoalan tersebut, perseroan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya penggunaan air bersih. “Dengan kami melakukan edukasi dengan masyarakat tentang bahaya menggunakan air bawah tanah, dalam hal ini masih menggunakan air dangkal terkait dengan penyakit dan lain sebagainya. Banyak yang sudah mulai kepada kita,” ungkap dia.
Selain itu, perseroan pun berupaya untuk memasukkan sejumlah sektor industri ke dalam daftar pelanggan. Sehingga, membutuhkan peran serta pemerintah daerah dan segenap pemangku kepentingan dengan membuat sebuah regulasi.
“Industri juga menggunakan air bawah tanah. Mereka merasa lebih murah dan bahkan gratis dan kenapa harus pakai dari PDAM. Nah kami di sini butuh dukungan dari Pak Bupati, dalam arti dukungan dari seluruh OPD (organisasi perangakt daerah-Red) termasuk juga dengan Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat-Red) kita harus berkolaborasi. Di sini, kalau itu wilayah jaringan pipa, kami akan menganjurkan atau mengharuskan mereka menggunakan air dari PDAM untuk industri atau pelaku usaha,” pungkasnya.
