Jakarta, TopBusiness – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menerapkan efisiensi biaya distribusi dan promosi sebagai strategi perseroan di tengah pandemi Covid-19. Perseroan tetap optimistis bahwa keuangan akan tetap sehat, meski ekonomi sedang diterpa pandemi virus Corona.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Oey Marcos mengatakan, sejak awal pandemi masuk Indonesia, Indocement telah melakukan efisiensi biaya distribusi dengan mengoptimalkan distribusi melalui terminal-terminal yang tersebar di berbagai wilayah.
Tak hanya itu biaya promosi dan biaya umum administrasi juga dikurangi agar perseroan lebih efisien. “Di samping hanya menjalankan pabrik-pabrik yang paling efisien, kami juga melakukan optimalisasi penggunaan bahan baku dan bahan baku alternatif,” jelasnya dalam keterangan resmi perseroan, Senin (15/6/2020)
Dia menambahkan, operasional perseroan tidak terganggu akibat pandemi Covid-19. Pasalnya, industri perseroan merupakan bagian dari industri strategis nasional yang boleh tetap beroperasi dengan menerapkan protokol kesehatan. Bahkan, diharapkan dengan berakhirnya Pembatasan Sosial Berskala Besar, perseroan optimis pasar semen nasional kembali menggeliat.
Terkait kinerja keuangan kuartal I-2020, Marcos memperkirakan, pendapatan terkoreksi kurang lebih 25%, dibandingkan dengan pendapatan pada periode sama tahun lalu. Namun dengan posisi zero debt, kondisi keuangan perseroan diperkirakan tetap sehat di tengah kondisi ekonomi saat ini.
“Tidak berdampak karena kami dalam posisi zero debt, sehingga selalu kuat menghadapi badai-badai krisis yang terjadi,” ujar Marcos.
Sebelumnya, perseroan memutuskan untuk memangkas belanja modal (capital expenditure/capex) 2020 menjadi Rp 1,1 triliun dari rencana semula Rp 1,4 triliun. Penyesuaian capex dilakukan lantaran pandemi Covid-19 yang dinilai menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Anggaran capex berasal dari kas internal, dan perseroan belum berencana untuk melakukan ekspansi pabrik baru, mengingat kondisi pasar semen yang masih kelebihan pasokan,” jelasnya.
Tahun 2019, Indocement membukukan pendapatan sebesar Rp 15,94 triliun atau naik 4,9% dari realisasi 2018 sebesar Rp 15,19 triliun. Seiring itu, laba bersih naik menjadi 60,26% menjadi Rp 1,83 triliun pada tahun lalu, dibandingkan laba bersih 2018 sebesar Rp 1,14 triliun.
Indocement mampu menjual 18,1 juta ton semen, hampir stagnan dengan realisasi penjualan 2018 yang sebanyak 18 juta ton. Penjualan semen kepada pihak ketiga menjadi kontributor utama terhadap pendapatan perseroan yakni Rp 14,09 triliun, atau setara 88,3%.
