Jakarta, TopBusiness—Direktur Utama PT Jasa Armada Indonesia (IPC Marine), Chiefy Adi K., mengatakan di Jakarta hari ini bahwa pihaknya dalam mengimplementasikan GRC, mementingkan faktor budaya. Dan dalam hal tersebut, Jasa Armada Indonesia punya tiga langkah penerapan budaya risiko.
“Langkah yang pertama adalah ‘kesadaran budaya risiko’,” ucap Chiefy dalam presentasi secara daring untuk Dewan Juri Top GRC 2020, suatu ajang penilaian-penghargaan praktik GRC untuk perusahaan se-Indonesia, yang digelar Majalah TopBusiness bersama sejumlah institusi.
Dijelaskan, dalam aspek kesadaran budaya risiko itu, ada beberapa poin penting. Yakni sebagai berikut: memberikan komunikasi penerapan risiko dari setiap kepala departemen; menanamkan penerapan manajemen risiko di setiap pekerja departemen; menekankan bahwa manajemen risiko merupakan tanggung jawab bersama.
Langkah kedua adalah membentuk budaya organisasi. Dalam hal ini, ada pembentukan risk owner di setiap departemen; melakukan pelatihan kepada seluruh risk owner; serta memasukkan manajemen risiko dalam pencapaian sasaran-tujuan sebuah departemen.
“Untuk langkah ketiga,” kata Chiefy, “adalah membangun budaya perusahaan terkait hal itu.”
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa pihaknya intensif membuat inovasi terkait praktik GRC. Satu di antara itu adalah sistem manajemen anti-penyuapan. Ini berbasis kepada standar ISO tertentu.
Pada presentasi itu, Chiefy pun menjelaskan bahwa layanan yang disediakan pihaknya bisa dikatakan merupakan embrio bagi sistem pengelolaan pelabuhan kelas dunia. “Layanan kami pun berperan sebagai fasilitator pertumbuhan aktivitas perdagangan.”
Suatu negara termasuk RI, dia menambahkan, bisa lebih maju dengan sistem logistik nasional yang bagus. Dan hal itu terkait erat dengan sistem pengelolaan pelabuhan yang berkualitas bagus.
“90% dari perdagangan di dunia, itu melalui transportasi laut. Maka, Indonesia harus punya sistem kelas dunia.”
Sumber Foto: IPC
