TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

PE Murah, Reksadana Dinilai Jadi Investasi Primadona

Busthomi
15 July 2020 | 16:25
rubrik: Capital Market
FOTO2 BURSA EFEK

Ilustrasi harga saham di Bursa Efek Indonesia. FOTO: Rendy MR/TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana menyampaikan, ekonomi secara global akan pulih secara bertahap atau membentuk U-shape dimulai pada kuartal III-2020 ini. Hal ini terlihat dari mulai meningkatnya aktivitas manufaktur beberapa negara Asia serta mulai pulihnya harga minyak meskipun masih disokong oleh permintaan yang terbatas.

“Kami masih optimistis bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup baik dan dari sisi pasar saham Indonesia. Ini menawarkan potensi imbal hasil cukup menarik bagi investor asing dimana PE (Price to Earning) ratio rata-rata saat ini cukup murah di level 12,4 per 10 Juli 2020, ditambah komitmen BI untuk menjaga kestabilan moneter dan mata uang rupiah,” ujar Jemmy dalam acara diskusi BizInsight online yang diadakan oleh Bank Commonwealth, Rabu (15/7/2020).

Dengan kondisi saat ini, Jemmy optimistis reksa dana akan menjadi primadona investasi ke depannya. Menurut dia, industri reksa dana masih akan terus berkembang melihat tren pertumbuhan jumlah investor baru yang semakin meningkat dan bertambah meleknya masyarakat terhadap produk-produk reksa dana, terutama pada kalangan milenial.

Meski demikian, dengan adanya berbagai tekanan sentimen negatif yang masih melanda pasar baik dari domestik maupun eksternal, ia memperkirakan pertumbuhan industri reksa dana mencapai single digit di tahun ini.

“Pasar modal dikenal sebagai salah satu leading economic indicator sehingga pergerakan pasar modal cenderung akan mengikuti perubahan pandangan dan ekspektasi pada pertumbuhan ekonomi dan bisnis ke depannya,” kata dia.

Di sisi lain, Jemmy menambahkan, pertumbuhan NAB (Nilai Aktiva Bersih) reksa dana seperti pasar uang dan pendapatan tetap masih tinggi. “Dalam kondisi pasar saat ini investor cenderung beralih ke reksa dana dengan profil risiko yang konservatif,” kata Jemmy.

Senada dengan Jemmy, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya menyatakan pembukaan kembali ekonomi secara gradual memberikan optimisme akan mulainya pemulihan ekonomi, meski masih dibayangi dengan kembali meningkatnya kasus Covid-19.

BACA JUGA:   Waspada Koreksi Lanjutan, Analis Rekomendasikan Saham Ini: KIJA, HRTA, UNTR, ADRO, SSIA, dan INDY

“Semester II-2020 diharapkan menjadi titik balik pemulihan ekonomi setelah mengalami penurunan yang dalam pada semester I, khususnya pada kuartal II-2020,” kata Ivan pada kesempatan yang sama.

Berdasarkan Data Statistik Pasar Modal Minggu ke-4 Mei 2020 yang dilansir OJK, dana kelolaan reksa dana di Indonesia tercatat sebesar Rp476,3 triliun, atau turun 12,2% dibandingkan dengan posisi per Desember 2019. Namun perlu dicatat juga, lanjut Ivan, bahwa dari titik terendahnya di level 3.937 pada 24 Maret 2020, IHSG telah naik sebesar 30% ke level sekarang di 5.000-an dalam tiga bulan terakhir ini.

Foto: Rendy MR (TopBusiness)

Tags: Bank Commonwealthinvestasipasar modalreksadanasaham
Previous Post

IHSG Negatif 3 Poin

Next Post

Projek WIKA MRT di Taiwan Berjalan Lancar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR