TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Indeks Komposit Jakarta Berpotensi Meningkat

Agus Haryanto
17 July 2020 | 09:00
rubrik: Capital Market
FOTO2 BURSA EFEK

Bursa Efek Indonesia (BEI). FOTO: (Rendy MR/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG hingga akhir perdagangan Jumat (17/07/2020) di Bursa Efek Indonesia. Indeks komposit Jakarta ini berpotensi mengalami peningkatan poin.

Dalam riset harian samuel.co.id, di Jakarta, memperlihatkan potensi penguatan indeks. “Bursa regional nikkei dan kospi pagi ini bergerak positif (0,26% dan 0,61%), sementara kami melihat IHSG hari ini dapat melanjutkan pergerakan positif pasca kembalinya pemotongan suku bunga,” demikian tersebut.

Rilis data ekonomi GDP China pada 2Q20 tumbuh 3,2% YoY, berbalik dari situasi 1Q20 yang tumbuh negatif 6,8% YoY. Pertumbuhan ini juga berada di atas konsensus sebesar 2,5%. Pemulihan di 2Q20 ini membentuk V-Shape recovery setelah China sukses mengontrol penyebaran Covid-19 di Wuhan, membuka kembali ekonominya, dan dukungan stimulus ekonomi yang diberikan oleh pemerintah China.

Pasar saham Amerika ditutup melemah semalam meski masih dalam tren rally dalam dua minggu terakhir. S&P 500 melemah 0,34%, dow jones turun 0,50% dan nasdaq turun 0,73%, sementara yield 10Y US Treasury masih bergerak sideways di level 0,62%. Rilis data ekonomi Retail Sales AS periode Juni kembali tumbuh 7,5% MoM (prev: 18,2% MoM; cons: 5% MoM) mengikuti tren bulan Mei setelah terkontraksi dalam pada periode social distancing Maret – April lalu.

Pasar Saham domestik kemarin ditutup menguat 0,44% ke level 5.098,4, menyusul pemotongan suku bunga yang dilakukan BI sebesar 25 bps ke level 4,00% (prev: 4,25%; cons: 4,00%). BI juga mengumumkan nilai quantitative easing yang dijalankan telah mencapai Rp 633,24 triliun hingga 14 Juli lalu. Angka tersebut, diantaranya, penurunan giro wajib minimum (GWM) Rp 155 triliun dan ekspansi moneter Rp 462,4 triliun. Longgarnya likuiditas juga tercermin dari suku bunga pasar uang (PUAB) yang rendah di level 4% per Juni 2020.

BACA JUGA:   Dengan Ornamen Lokal, Jembatan Lebih Bagus

Fotograper: Rendy MR

Previous Post

UMKM Dominasi Restukturisasi Kredit Perbankan

Next Post

Saat Dibuka, IHSG Terkoreksi 11 Poin

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR