Jakarta, TopBusiness—Pengusaha nasional James Riady mengatakan bahwa dirinya sangat berharap agar sektor properti menjadi back bone perekonomian nasional.
“Berdasarkan pengalaman aktivitas bisnis properti di negara lain, saya pun ingin agar di Indonesia sektor properti lebih berperan,” kata James dalam seminar melalui internet, yang digelar oleh REI (Real Estate Indonesia), di Jakarta (23/7/2020).
Dikatakannya, terkait dampak Covid-19 terhadap perekonomian dan sektor properti, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah Indonesia.
Pertama dalam hal demand site. Dalam hal ini, akan sangat membantu ketika pemerintah Indonesia terus mendorong masyarakat untuk punya rumah, dan terus mengatakan bahwa investasi properti itu bagus dan tepat. “Di Tiongkok, setiap orang mimpi punya rumah. Pemerintahnya pun menggerakkan dengan menyediakan bunga murah dan lain sejenisnya, agar setiap orang punya rumah.”
Hal tersebut berbeda dengan di Indonesia. Rata-rata orang di Indonesia takut untuk punya rumah. Sementara itu, sebenarnya rumah merupakan tabungan yang memaksa orang untuk menabung.
Kata James, “Saat ini, program pemerintah Indonesia sudah cukup banyak dan bagus. Dan yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah menggerakkan demand site tersebut.”
Demand site itu perlu diluaskan dengan melonggarkan regulasi pemilikan properti hunian oleh ekspatriat. Kalau pasar properti ekspatriat itu nantinya terlalu ‘panas’, bisa saja diperketat lagi. Akan tetapi, di masa dampak Covid-19 ini, sebaiknya pelonggaran dilakukan.
Selanjutnya, James merekomendasikan agar hambatan-hambatan dalam pemilikan properti, dilonggarkan. Misalnya, saat ini, pembeli properti sering ditanyai oleh kantor pajak terkait asal-usul uang yang dipakai. “Bagusnya, kini jangan terlalu ketat. Pertanyaan [dari kantor pajak] memang hanya 10, tetapi bisa membikin orang takut beli properti dan menunda.”
“Jadi, demand site perlu dinaikkan, lantas perbaikan perizinan pun dilakukan,”imbuh James.
Akan halnya supply site, James berkata bahwa ini merupakan hal paling riskan bagi para pengembang. “Menjadi pengembang properti di RI itu paling bahaya. Saya sendiri beberapa kali nyaris bangkrut,” papar dia.
Dalam membeli lahan, pengembang properti tidak mendapatkan pembiayaan. Kredit konstruksi pun sulit. Hal tersebut berbeda dengan di negara lain. “Jadi, memang risiko menjadi pengembang properti di Indonesia, sangat besar,” James mengatakan.
Foto: Rendy MR/TopBusiness
