Jakarta, TopBusiness – Riki Firmandha Ibrahim, Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), menegaskan bahwa “pemerintah telah sepenuhnya memberikan dukungan kepada pengembangan energi terbarukan panas bumi melalui kegiatan dengan menggunakan mekanisme government drilling untuk eksplorasi oleh pemerintah”.
“Kita sudah sangat tahu bahwa pandemi COVID-19 telah melumpuhkan ekonomi dunia. Dengan terjadinya penurunan permintaan listrik yang cukup signifikan, hal ini semestinya dapat menjadi sebuah peluang untuk mendorong percepatan pengembangan dan pemanfaatan sumber energi panas bumi karena sifatnya yang ramah lingkungan, mengurangi emisi gas rumah kaca CO2 dibanding pembangkit fosil serta memiliki aspek keberlanjutan karena energi terbarukan,” ujarnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang sedang lesu, program government drilling eksplorasi melalui PMK No.62/2017 akan memberikan peluang terhadap pengembangan panas bumi dengan investasi eksplorasi yang lebih tepat prosesnya karena program eksplorasi pemerintah itu tidak menggunakan APBN. Peluang government drilling eksplorasi melalui PMK No.62/2017 harus dimanfaatkan sebaik-baiknya mengingat investasi terbesar dalam konversi energi panas bumi menjadi listrik adalah biaya eksplorasi di awal.
Pemerintah sepertinya telah menyadari pentingnya pemanfaatan sumber energi panas bumi. Hal tersebut terbukti dari jajaran Kementerian ESDM yang menyebut bahwa kapasitas pembangkit listrik panas bumi (PLTP) terus mengalami peningkatan. Pada 2019, misalnya, kapasitas terpasang pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan mengalami peningkatan sebesar 376 MW, di mana sebagian besar diantaranya berasal dari PLTP, yaitu sebesar 182,3 MW.
Meningkatkan output ekonomi lokal, membangun infrastruktur jalan, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan penerimaan negara dan daerah, memperbaiki kondisi lingkungan dan mengurangi biaya eksternalitas negatif lingkungan ialah beberapa keunggulan yang ditawarkan dari pengembangan sektor panas bumi untuk listrik. PLTP hampir tidak menghasilkan emisi karbon berkesinambungan untuk lingkungan yang dapat mendukung komitmen pengurangan emisi karbon masyarakat dunia. Kawasan hutan dan lingkungan yang terawat merupakan faktor penting bagi kelangsungan pemanfaatan panas bumi karena sumur dan power plant serta pipanya itu sangat sedikit sekali lahan yang dipakai.
Oleh karena itu, Dirut PT Geo Dipa Energi (Persero) meminta pemerintah qq. Kementerian ESDM harus terus semangat berupaya lebih serius dalam mempromosikan regulasi pengembangan dan insentif mendorong Road Map of Geothermal Development 2030 agar terwujudnya Indonesia Geothermal Center of Excellence di tahun 2045, 100 tahun Indonesia merdeka. Wabah virus korona (COVID-19) yang terjadi saat ini telah menyasar keseluruh aspek kehidupan kita semua, khususnya sektor Ketenagalistrikan dan energi nasional yang menunjang ekonomi negara. Kondisi ini tidak hanya terjadi di global, melainkan Indonesia yang juga turut terimbas.
Selama pandemi COVID-19, kondisi kelistrikan global terus mengalami penurunan permintaan akibat lockdown yang diberlakukan di beberapa negara, yang menurut studi IEA sampai 20% penurunan. Di kuartal I 2020, penurunan permintaan listrik global telah mengalami penurunan hingga 2,5 persen jika dibandingkan dengan kuartal I tahun 2019 dengan rata-rata terjadi penurunan permintaan hingga 20 persen di beberapa wilayah yang menerapkan lockdown total. Dari data tersebut dapat terlihat bahwa penurunan permintaan listrik akibat pandemi ini berkurang sangat signifikan. Di tahun 2020, permintaan listrik global diperkirakan akan mengalami penurunan secara global sebesar hingga 20 persen secara year on year.
Tetapi dampak penurunan permintaan listrik akan kembali mengalami peningkatan seiring dengan pulihnya kondisi ekonomi global dan nasional. Apabila pemulihan ekonomi berjalan bertahap dan lambat, maka pemanfaatan sumber-sumber Energi Terbarukan diperkirakan akan mengalami peningkatan dan ini saatnya yang tepat untuk mendorong pembangunan energi terbarukan.
Pembatasan berskala besar atau lockdown yang diterapkan di beberapa negara juga menyebabkan keterlambatan pengembangan maupun pembangunan proyek-proyek ketenagalistrikan, termasuk di Indonesia, di mana penyelesaian sisanya dari proyek 35.000 MW akan tertunda karena adanya gangguan pada rantai pasokan, ketersediaan tenaga kerja, hingga pembiayaan proyek.
Melihat berbagai masalah tersebut, Indonesia dirasa perlu mendorong transisi energi menuju energi baru terbarukan. Pandemi COVID-19 harus menjadi pemicu bagi Indonesia untuk melakukan lompatan besar dalam pengembangan energi terbarukan. Indonesia melihat ini sebagai peluang meningkatkan pangsa Energi Terbarukan dalam pasokan listrik karena outputnya sebagian besar tidak terpengaruh. Pemikiran least cost dari energi itu harus ditambah dengan aspek lingkungan, penurunan emisi CO2 dan aspek sustainability/ keberlanjutan karena cepat atau lambat fosil akan habis. Sumber daya alam ini bukan warisan nenek moyang tetapi titipan untuk anak cucuk kita kelak. Pemanfaatan ET perlu ditingkatkan tidak hanya untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23 persen pada tahun 2025, tetapi juga menuju ekonomi rendah karbon (CO2). Indonesia Geothermal Center of Excellence 2045 harus menjawab Kemandirian dan Ketahanan Energi Bauran Nasional di tahun 2050.
Dilihat dari perspektif lingkungan dan sustainability/ keberlanjutan, pemakaian energi fosil dipastikan berdampak pada penurunan mutu lingkungan akibat emisi CO2 dan bahan partikulat yang cukup besar. Indonesia sendiri masih bergantung kepada sumber energi yang tinggi emisi. Pada tahun 2018, produksi pembangkit listrik Indonesia sebagian besar bersumber dari bahan bakar fosil, hanya sebesar 17,1 persen dari 100 persen berasal dari Energi Terbarukan. Porsi bauran EBT baru mencapai 8,6 persen, atau sekitar 2,5 persen (9,8 GW) dari potensi yang ada (441,7 GW).
Foto: Rendy MR
