
JAKARTA-businessnews.id: Demi menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan nasional, khususnya kebutuhan daging sapi, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemrov Jabar) melakukan kerjasama pengembangan sapi pasundan.
Kerjasama yang dilakukan dalam beberapa proyek ini melibatkan Industri kecil dan Menengah (IKM) Kemenristekdikti, LIPI, BP3Iptek Jabar dan Universitas Padjajaran. Sementara penandatangan MoU disaksikan Menristek M. Nasir dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dalam kerjasama ‘Penerapan Iptek Agribisnis Terpadu Berbasis Keanekareagaman Hayati di Jawa Barat, di Gedung II BPPT, Jakarta, Selasa.
“Pengembangan sapi pasundan nantinya akan menggunakan rekayasa genetik. Teknologi rekayasa genetik juga bisa digunakan untuk menangani kebutuhan aneka ragam hayati,” ujar Menristekdikti M.Nasir.
Diharapkan kedepan, lanjut Menristek, Pemrov Jabar dapat menjadi lumbung daging nasional. Apalagi Jabar memiliki potensi alam yang mendukung dalam pengembangan sapi. Dengan menggunakan rekayasa genetik, maka sapi pasundan yang dihasilkan beratnya bisa mencapai di atas rata-rata. “Tidak menutup kemungkinan, kedepan kami juga akan melakukan pengembangan rekayasa genetik untuk hewan kambing atau domba,” kata Nasir.
Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) menuturkan, penggunaan sapi pasundan sebagai media pengembangan rekayasa genatik untuk kebutuhan pangan, karena sapi khas jawa barat ini memiliki kekuatan fisik dibandingkan sapi lain, termasuk sapi dari Australia.
“Selain sudah mengenal iklim di Jawa Barat, sapi pasundan memiliki fisik yang handal dibanding sapi yang lain. Jika sapi-sapi lain, termasuk sapi Australia, meminum air dari selokan air umum maka sapinya bisa menceret-mencret. Tapi itu tidak terjadi pada sapi pasundan,” jelas Aher.
Aher juga berjanji pihaknya akan mengembangkan rekayasa genetik untuk beberapa produk tanaman dan buah khas Jawa Barat. Termasuk untuk tanaman dan buah jeruk garut. Karena selama ini pohon jeruk garut setelah satu kali berbuah atau panen, pohonnya langsung mati dan tidak berbuah lagi. “Padahal jeruk garut terkenal manis,” imbuhnya. (Teguh)