JAKARTA-businessnews.id: Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19 Mei 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50% dan Lending Facility pada level 8,00%.Keputusan tersebut sejalan dengan stance kebijakan moneter yang cenderung ketat untuk menjaga agar inflasi berada dalam sasaran 4±1% pada 2015 dan 2016, serta mengarahkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dalam kisaran 2,5-3% terhadap PDB dalam jangka menengah.
Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardoyo menyatakan untuk menjaga inflasi dan defisit transaksi berjalan itu maka perlu mewaspadai sektor eksternal dimana pertumbuhan ekonomi Ameriksa Serikat Belum sesuai harapan, “ Dan resiko kenaikan suku bunga Bank Central Amerika serikat yang hanya menunggu waktu dan berapa besaranya, “ ujar dia di Jakarta, Selasa.
Disamping itu, harga komoditi eksport nasional juga belum juga membaik. Dimana dalam survei Bank Indonesia ada bulan Maret 2015 terlihat penurunan harga seluruh komoditas ekport mencapai 11,5 persen. “ Padahal sepanjang tahun 2014 hanya turun 4 persen -5 persen saja dan kami awalnya memperkirakan pada 2015 ini hanya turun sampai 5,5 persen,” ujarnya
Pertumbuhan pada triwulan I 2015 tercatat sebesar 4,7% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,0% (yoy). Hal ini terutama didorong lemahnya kinerja beberapa komponen permintaan domestik terutama konsumsi pemerintah dan investasi pada sektor bangunan. Belum terealisirnya belanja pada beberapa kementerian dan lembaga yang baru serta masih terbatasnya belanja modal terkait dengan implementasi proyek-proyek infrastruktur pemerintah mengakibatkan lemahnya kinerja konsumsi pemerintah dan investasi bangunan.
Secara spasial, perlambatan ekonomi pada triwulan I 2015 terjadi hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, baik di wilayah Jawa dan Jakarta, yang mengandalkan sektor manufaktur, maupun wilayah Sumatera dan Kalimantan, daerah penghasil komoditas sumber daya alam.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan membaik terutama pada semester II-2015, didukung oleh meningkatnya konsumsi dan investasi sejalan dengan meningkatnya realisasi pengeluaran fiskal oleh pemerintah serta meningkatnya penyaluran kredit oleh perbankan. Ke depan, percepatan realisasi belanja Pemerintah baik di kementrian/lembaga dan untuk implementasi proyek-proyek infrastruktur menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi 2015. (azis)