Jakarta, TopBusiness – Laju saham PT Telekomunikasi Indonesia (Perser) Tbk atau TLKM terus mengalami penurunan hingga membuat harganya sudah relatif murah. Padahal, secara fundamental BUMN telekomunikasi itu masih sangat kuat. Perseroan pun masih mendulang pertumbuhan laba bersih di kuartal III-2020 lalu.
Untuk diketahui, pada penutupan perdagangan Rabu (4/11/2020), saham TLKM ditutup di level Rp2.580, setelah bergerak di rentang Rp2.580-Rp2.640. Secara year to date (ytd), saham TLKM sudah terkoreksi hingga 35,01 persen sepanjang tahun berjalan. Namun jika dilihat secara year on year (yoy) atau dibandingkan dengan harga saham pada 4 November 2019, saham TLKM sudah anjlok 37,83% atau 1.570 poin dari Rp4,150 per saham.
Menurut analis pasar modal dari Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama, secara fundamental kinerja Telkom masih positif. Hingga kuartal III-2020, meski pendapatan perseroan alami penurunan, namun ternyata masih bisa mengantongi laba bersih. Ini tentu masih positif bagi pelaku pasar.
Justru penurunan saham TLKM yang terjadi saat ini, kata dia, lebih karena sentiment lain bukan karena kinerja perusahaan yang berat. Untuk itu, Nafan pun menyarankan untuk akumulasi beli terhadap saham TLKM yang harganya sudah murah itu.
“Saya sarankan akumulasi beli TLKM. Apalagi prospek ke depan yakni tren broadband masih positif. Dan subscribers juga mengalami tren yang positif. Telkom juga mendukung untuk mewujudkan revolusi industri 4.0. Dan secara keuangan, DER (debt to equity ratio) TLKM juga masih di bawah 100 persen,” saran Nafan saat dihubungi TopBusiness, di Jakarta, Kamis (5/11/2020).
Kinerja TLKM hingga kuartal III-2020 berhasil mengantongi pendapatan sebesar Rp99,94 triliun. Realisasi tersebut turun 2,62 persen dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp102,63 triliun. Namun begitu, perseroan masih membukukan laba bersih mencapai Rp16,67 triliun dari sebelumnya Rp16,45 triliun atau naik 1,34 persen.
Nafan sendiri menilai, turunnya saham Telkom ini lebih karena adanya sentiment PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) yang mengalami gagal bayar obligasinya. Sehingga dinilai bisa mengganggu investasi TLKM. “Sentimen TELE saja sih [pemicu turunnya saham TLKM]. Jadi investor bisa akumulasi beli. Kalau PER (price earning ratio) sih belum rendah banget, belum di bawah 10x. Dengan TP (take profit) di 3.000,” tuturnya.
Senada, analis pasar modal lainnya, Hans Kwee menyebut, saham TLKM masih layak untuk untuk dibeli dan menjadi pilihan investor karena sudah terkoreksi dalam. Padahal TLKM sendiri memiliki fundemental yang baik.
Dia menilai, kinerja perseroan Telkom ini lebih karena adanya pendapatan TLKM dari segmen perkantoran selama masa pandemi Covid-19 menurun. Padahal, industri teknologi informasi diperkirakan masih akan terus bertumbuh ke depanya.
“Kalau perkantoran mulai normal maka kinerja TLKM akan tumbuh lebih cepat, apalagi TLKM merupakan emiten teknologi informasi paling besar kapitalsasi pasarnya,” tandas Hans.
Sebelumnya, SVP Corporate Communication & Investor Relation Telkom Ahmad Reza mengatakan hampir seluruh lini bisnis yang dimiliki Telkom masih memiliki potensi pertumbuhan yang positif. Salah satunya, bisnis mobile data yang dikelola anak usaha perseroan yakni PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) masih punya cukup ruang untuk bertumbuh.
“Pendapatan dari mobile data diproyeksikan akan terus tumbuh, didorong oleh kenaikan trafik data. Saat ini pendapatan dari data berkontribusi sekitar 70 persen terhadap pendapatan Telkomsel,” katanya.
Unuk itu, Reza sendiri berpendapat, saat ini merupakan waktu yang tepat membeli saham Telkom. Pasalnya, pertama, fundamental Telkom sangat kuat dengan peluang pertumbuhan yang cukup baik. Kedua, valuasi saham Telkom saat ini sangat menarik.
Saat ini, PE ratio Telkom ada di kisaran 14 kali, yang merupakan posisi terendah dalam 5 tahun terakhir. Adapun rata-rata PE ratio dalam 5 tahun terakhir di kisaran 19,7 kali.
“Dengan harga penutupan hari ini [4 November 2020] di Rp2.580, saham Telkom menawarkan potensi dividend yield yang cukup baik di atas tingkat bunga deposito saat ini, dengan asumsi dividend per share relatif stabil,” tandas Reza.
Foto: Istimewa
