TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Hutama Karya Tambah Ruas Tol dan Garap 8 Jalan Tol Trans Sumatera

Albarsyah
29 December 2020 | 16:15
rubrik: BUMN
Hutama Karya Tambah Ruas Tol dan Garap 8 Jalan Tol Trans Sumatera

Jakarta, TopBusiness – Terus berkarya membangun negeri melalui infrastruktur terbaik di Indonesia, PT  Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) berkomitmen untuk memberikan kinerja terbaik  dalam melanjutkan penugasan dari Pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Presiden  Nomor 117 Tahun 2015 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS)  dalam rangka pengembangan kawasan di Pulau Sumatra.

Menjelang akhir tahun 2020, Hutama  Karya menambah 2 daftar tol beroperasi yakni Tol Pekanbaru – Dumai (132 Km) dan Tol  Sigli – Banda Aceh seksi 4 Indrapuri – Blang Bintang (14 Km), sehingga secara keseluruhan  ruas JTTS yang telah dioperasikan Hutama Karya yakni 7 (tujuh) ruas tol. 

Adapun 5 ruas tol lainnya yang telah beroperasi secara penuh yakni Tol Bakauheni – Terbanggi Besar (141 Km), Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang dan Tol Pematang  Panggang – Kayu Agung (189 Km), Tol Palembang – Indralaya (22 Km), hingga Tol Medan – Binjai seksi 2 & 3 (15 Km).

Sedangkan untuk ruas tol Medan – Binjai seksi 1 (Tanjung Mulia  – Marelan – Helvetia) Segmen Tanjung Mulia – Marelan sepanjang 4,2 Km dan ruas tol Sigli – Banda Aceh seksi 3 (Jantho – Indrapuri) sepanjang 16 Km telah dibuka secara fungsional tanpa  tarif menjelang libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 (Nataru) mulai Rabu (23/12) hingga  Senin (4/1) 2021 mendatang. 

Direktur Operasi I Hutama Karya, Suroto, menyampaikan meski berada di tengah pandemi  Covid-19 yang telah melanda dunia dan Indonesia selama kurang lebih 10 bulan terakhir,  Hutama Karya tetap berkomitmen menyelesaikan mandat dari Pemerintah Indonesia. “Tahun  ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi kami. Di samping mengutamakan Kesehatan, serta keselamatan para karyawan dan pekerja di proyek pembangunan JTTS, proses pembangunan  Proyek Strategis Nasional (PSN) pun harus tetap berjalan. Untuk itu, manajemen telah  menerapkan berbagai skenario dan memberlakukan contingency plan yang harus dipatuhi oleh  seluruh elemen baik di kantor pusat maupun di proyek-proyek yang sedang digarap perusahaan, agar pembangunan proyek tidak terhambat. Bahkan perusahaan berhasil mengoperasikan dua  ruas di JTTS di tahun 2020,” ujar Suroto dalam keterangan resmi.

BACA JUGA:   Pekan TJSL DAHANA 2023 Ditutup dengan Tabligh Akbar

Kedua ruas tol yang telah diresmikan dan dioperasikan di tahun ini memiliki value tersendiri  bagi masing-masing wilayahnya. “Tol Pekanbaru – Dumai menjadi tol terpanjang ke-3 di Indonesia, dan tol ini memiliki keunikan khusus yakni disepanjang jalan bebas hambatan  tersebut terdapat Underpass Perlintasan Gajah (UPG) pertama di Indonesia. Kami berkoordinasi  dengan BBKSDA Riau untuk tetap menjaga kelestarian gajah-gajah di Sumatra, agar  keseimbangan infrastruktur dan ekosistem tercapai. Sementara itu, Tol Sigli – Banda Aceh Seksi  4 menjadi tol dengan proses pembebasan lahan tercepat seperti yang disampaikan oleh Bapak  Jokowi saat peresmian bulan Agustus silam. Ini menjadi sebuah hal yang positif, karena pada  prinsipnya pembangunan tol didukung oleh masyarakat dan pihak setempat.” jelas Suroto. 

Hingga akhir tahun 2020, selain mengoperasikan 2 (dua) ruas JTTS, Hutama Karya juga  menggarap konstruksi 8 (delapan) ruas JTTS, diantaranya Tol Sigli – Banda Aceh (60 Km)  dengan total progres konstruksi mencapai 63%, Tol Pekanbaru – Pangkalan (83 Km) dengan  progres konstruksi mencapai 41%, Tol Padang – Sicincin (37 Km) dengan progres konstruksi  mencapai 34%, Tol Bengkulu – Taba Penanjung (18 Km) dengan progres konstruksi 85%, Tol  Sp. Indralaya – Muara Enim (121 Km) dengan progres konstruksi 19%, Tol Binjai – Langsa  (131 Km) dengan progres konstruksi 27%, Tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat (143  Km) dengan progres konstruksi 53% dan Tol Indrapura – Kisaran (48 Km) dengan progres  konstruksi 16%. Sehingga total panjang JTTS yang dibangun hingga penghujung tahun 2020  yakni 1.156 Km dengan 643 Km ruas konstruksi dan 513 Km ruas operasi. 

Tak hanya menargetkan penyelesaian ruas-ruas yang saat ini tengah dalam proses konstruksi,  Hutama Karya juga menargetkan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) di 3 (tiga) ruas tol.  “Tahun depan kita targetkan penyelesaian Tol Bengkulu – Taba Penanjung sepanjang 18 KM,  Tol Sigli – Banda Aceh seksi 1-2 dan seksi 5-6, serta sejumlah seksi di sepanjang ruas Pekanbaru  – Padang. Kami berharap tahun depan menjadi tahun recovery untuk kita semua,  sehingga seluruh target yang telah ditentukan oleh perusahaan di tahun 2021 dapat tercapai.”  tutup Suroto Direktur Operasi I Hutama Karya.

BACA JUGA:   BUMD Bengkulu Ini Sudah Remajakan Mayoritas ‘Pipa Belanda’

Meski dihadapkan dengan merebaknya Pandemi Covid-19 di Indonesia, namun tidak menjadi  halangan bagi Hutama Karya untuk terus menghubungkan kebaikan dalam berkiprah dan  memprioritaskan pembangunan infrastruktur di Indonesia melalui Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo dalam peresmian Tol Sigli – Banda  Aceh seksi 4 (Indrapuri – Blang Bintang) secara virtual pada (25/7) silam, bahwa hadirnya JTTS  akan mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di Sumatra. “Selain meningkatkan  efisiensi waktu tempuh menjadi 53 jam sepanjang koridor pembangunan, keberadaan jalan tol  akan meningkatkan multiplier effect 2 sampai 3 kali setelah selesai di 2024, serta menyerap tenaga kerja hingga 296 ribu lapangan kerja secara langsung untuk 18 ruas yang ada.” Ujar  Jokowi.

Sejalan dengan hal tersebut, Hutama Karya terus berkomitmen untuk menjaga kesejahteraan  Sumber Daya Manusia (SDM) dengan tidak mengurangi jumlah pekerja di Jalan Tol Trans  Sumatera di tengah Pandemi Covid-19 ini. Di tahun 2020 sendiri, terhitung terdapat total 7.938  jumlah pekerja yang tersebar di seluruh ruas-ruas pembangunan konstruksi JTTS, dimana  keseluruhan pekerja ini merupakan gabungan yang berasal dari Hutama Karya selaku Badan  Usaha Jalan Tol (BUJT), konsultan supervisi, kontraktor, konsultan Pengendali Mutu  Independen (PMI), dan sub-kontraktor. 

Lokomotor Perekonomian

Tantangan ke depan pembangunan Indonesia tidaklah mudah untuk diselesaikan. Dinamika  ekonomi domestik dan global mengharuskan Indonesia senantiasa siap terhadap perubahan.  Keberadaan Indonesia di pusat baru gravitasi ekonomi global yaitu Kawasan Timur Asia  (termasuk Asia Tenggara) menjadikan Indonesia sebagai jantung pertumbuhan ekonomi dunia.  Indonesia menjadi negara dengan luas kawasan terbesar, penduduk terbanyak dan sumber daya  alam terkaya, salah satunya di Pulau Sumatra. Kegiatan perekonomian utama Sumatra yang saat  ini berfokus pada kelapa sawit, karet, batu bara, perkapalan dan besi baja, menjadikan Sumatra  sebagai sentra produksi dari pengolahan bumi dan juga lumbung energi nasional.

BACA JUGA:   Satuan 81 Kopassus Pelajari Bahan Peledak DAHANA

Dalam prinsipnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan mesin penggerak  perekonomian Indonesia. Sebagai salah satu BUMN Infrastruktur terkemuka di Indonesia,  sumbangsih Hutama Karya dalam membangun negeri dapat dilihat dari berbagai infrastruktur  yang telah dan tengah digarap, salah satunya melalui pembangunan jalan bebas hambatan, Jalan  Tol Trans Sumatera (JTTS). Untuk mendukung pengembangan setiap kegiatan ekonomi utama  tersebut, diperlukan upaya peningkatan konektivitas (infrastruktur jalan) sebagai akses  penunjang menuju pelabuhan wilayah setempat. Sehingga jika akses terfasilitasi, gerbang  menuju Hub Internasional di sisi Barat dan Timur Sumatra dapat terbuka dan secara tidak  langsung berdampak pada peningkatan perekonomian Indonesia di Pulau Sumatra dan tidak  hanya bertumpu di Pulau Jawa. 

Kantor Staf Presiden (KSP) meyakini pembangunan major project ini akan menumbuhkan  wilayah ekonomi baru. Seperti dikutip oleh voi.id, Deputi I KSP Febry C Tetelepta menyatakan  keberadaan infrastrukur jalan tol harus memberikan dampak positif bagi masyarakat.  “Keberadaan jalan tol memberikan kesempatan bagi pengusaha lokal untuk mengisi dan  menjalankan usahanya di rest area jalan tol tersebut. Sehingga dampak positifnya adalah  pertumbuhan wilayah ekonomi baru.” Ujar Febry C Tetelepta Deputi I KSP.

Previous Post

Kalbe Farma Tutup Anak Usaha di Singapura

Next Post

5 BUMN Sepakati Pembentukan Holding

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR