Jakarta, TopBusiness – PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel mengaku optimistis dalam menghadapi tahun 2021 ini. Heberapa target yang dicanangkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun 2021 ditarget bisa bertumbuh.
Hal ini seperti disampaikan oleh Direktur Utama Bank Kalsel, Agus Syabarrudin, dalam keterangan resmi yang diterima TopBusiness, dikutip Jumat (8/1/2021).
“Kami memiliki optimisme vaksinasi covid-19 yang direncanakan pemerintah untuk mulai dilaksanakan pada kuartal I-2021 akan memberikan stimulus pada sektor layanan keuangan,” kata Agus.
Disebut dia, mengacu pada RBB 2021, target Bank Kalsel tahun ini dapat mencapai pertumbuhan aset sebesar 8,41%, pertumbuhan kredit sebanyak 6,50%, pertumbuhan laba hingga 9,43%, dan pertumbuhan modal inti sebesar 12,87%.
Untuk mencapai itu, perseroan mengusung strategi dan langkah-langkah konservatif di tengah pandemic ini. Antara lain fokus pada upaya optimalisasi lini bisnis yang telah menjadi kekuatannya. Strategi utama Bank Kalsel tahun 2021 masih relevan dengan tahun 2020 yakni dua Grand Strategy, IT Development dan People Development.
IT Development difokuskan pada digitalisasi terhadap pelayanan bank, meliputi migrasi Core Banking, membangun Big Data, customer Digital Experience, pengembangan Produk dan Layanan Digital serta memperkuat Kapabilitas Digital.
Sedangkan People Development fokus pada mempersiapkan kapasitas dan kompetensi pegawai dalam menghadapi tantangan industri perbankan ke depan sekaligus menyongsong era perbankan digital.
Untuk implementasi dua Grand Strategy ini diturunkan kembali ke dalam tiga fokus strategi. Pertama, ialah optimalisasi pendapatan, sebagai upaya untuk dapat mempertahankan rentabilitas dalam tingkatan yang wajar.
Kedua, efisiensi biaya, agar dapat meminimalkan semua pos-pos pengeluaran berdasarkan skala prioritas. Ketiga, menjaga kualitas kredit, yakni berfokus pada kredit yang berkualitas baik dan mengoptimalkan penagihan.
“DI tahun ini, kami akan mengimplementasikan tiga fokus strategi itu dalam tiga model bisnis. Dengan strategi dan model bisnis ini, Bank Kalsel optimistis menatap tahun 2021, yang masih akan tumbuh dengan baik seperti halnya tahun 2020,” katanya.
Tiga model bisnis yang menjadi key success factor itu pertama Survival Mode, bagaimana bank memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya untuk terus dapat bertumbuh di tengah ketidakpastian perekonomian dan persaingan.
Kedua, Adaptive Mode yakni bagaimana bank dapat mengatasi kelemahan dan tantangan yang dihadapi untuk menciptakan bisnis yang mampu beradaptasi dalam memenuhi permintaan pasar dan menciptakan customer experience yang baik.
Ketiga, Offensive Mode, bagaimana bank dapat mendeteksi dan menanggapi setiap peluang yang ada dan memanfaatkannya untuk menjadi potensi keuntungan bank. “Kami yakin dengan strategi dan model bisnis ini, Bank Kalsel mampu bertahan, dapat beradaptasi dengan kondisi yang ada, sekaligus meningkatkan kinerja bisnis dan kerjasama dengan stakeholder,” ujarnya.
Spin Off Unit Syariah
Disisi lain, komitmen Bank Kalsel untuk melaksanakan Program Transformasi BPD yang merupakan komitmen bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Asosiasi Bank Daerah (ASBANDA) masih terjaga. Caranya dengan melakukan Growth Acceleration.
Fokusnya meningkatkan skala dan kinerja bisnis, pertumbuhan market share dan pemantapan corporate culture serta culture leadership.
Tak hanya itu, terkait arah dari kebijakan pengembangan Unit Usaha Syariah, Agus juga menyampaikan bahwa tahun ini Bank Kalsel masih tetap fokus terhadap upaya Spin Off Unit Usaha Syariah.
“Apapun model spin off yang nantinya menjadi pilihan Bank Kalsel, baik organik maupun non organik, pengembangan kinerja harus dilakukan secara atraktif mengingat sesuai ketentuan OJK Unit Usaha Syariah harus spin off pada tahun 2024,” kata Agus.
“Saat ini, Bank Kalsel Syariah masih tetap berupaya untuk repositioning market menjadi bank of choice masyarakat Kalimantan Selatan,” tutup Agus.
Atas hal ini, Bank Kalsel selalu melakukan upaya-upaya strategis, baik dalam bentuk koordinasi terhadap pemegang saham, melakukan riset pasar, membuat kajian-kajian akademis, dan lain sebagainya, sehingga spin off unit usaha syariah dapat terlaksana dengan baik.
FOTO: Istimewa
