TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Di Terminal IPCC, Hitachi-Isuzu Kuasai Ekspor Alat Berat dan Truk

Busthomi
29 January 2021 | 10:38
rubrik: Ekonomi
Di Terminal IPCC, Hitachi-Isuzu Kuasai Ekspor Alat Berat dan Truk

Jakarta, TopBusiness – Kinerja terminal milik PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) dalam melakukan aktivitas bongkar muat terkat ekspor-impor kendaraan terus bertumbuh. Dan sepanjang 2020 tahun lalu, ditilik dari ekspor untuk sub segmen truk/bus terus mengalami kenaikan.

Secara total, menurut laporan keterangan resmi perseroan yang diterima TopBusiness, Jumat (29/1/2021), volume ekspor untuk kategori truk/bus sepanjang 2020 tercatat sebanyak 4.458 unit. Berarti, angka tersebut mengalami kenaikan 108,51% dibandingkan jumlah truk/bus yang ditangangi di tahun sebelumnya sebanyak 2.138 unit.

“Dari jumlah tersebut, tercatat truk/bus merek Isuzu telah terekspor sebanyak 3.554 unit atau memiliki porsi 79,72% dari total ekspor truk/bus yang melalui terminal internasional IPCC. Adapun total ekspor Isuzu tersebut mengalami kenaikan 2.301,35% dari 148 unit di sepanjang 2019 menjadi 3.554 unit di sepanjang 2020,” tegas keterangan tersebut.

Angka ekspor Isuzu tersebut telah menempatkan posisi Isuzu sebagai nomor satu untuk ekspor kategori truk/bus menggantikan posisi Hino yang sebelumnya menguasai pasar ekspor truk/bus.

Adapun Hino di sepanjang 2020 mengalami penurunan 57,10% menjadi 780 unit dari 1.818 unit di sepanjang 2019. Di posisi berikutnya yang mengalami kenaikan ekspor ialah merek Volvo yang naik 47,06% menjadi 25 unit dari 17 unit di sepanjang 2019 dan Caterpillar yang meningkat 20,75% dari 53 unit di 2019 menjadi 64 unit di 2020.

Sementara itu, lanjutnya, untuk kategori alat berat yang biasa digunakana pada industri pertambangan, perkebunan, dan sebagainya tercatat mengalami penurunan tipis ekspor dengan nilai 1.820 unit di sepanjang 2020 dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 1.879 unit.

“Dari total alat berat yang diekspor melalui terminal IPCC tersebut, sebanyak 54,29% dikuasai oleh merek Hitachi. Sepanjang 2020, merek ini telah terekspor sebanyak 988 unit atau naik tipis 5,22% dari 2019 sebanyak 939 unit,” katanya.

BACA JUGA:   Fundamental Kuat dan Harga Saham Naik, IPCC Sabet Best Stock Award 2026

Lalu disusul alat berat besutan Sumitomo sebanyak 471 unit di sepanjang 2020 atau meningkat 8,28% dibandingkan 2019 sebanyak 435 unit. Peningkatan ekspor cukup tinggi diraih oleh Komatsu yang berhasil mengekspor sebanyak 79 unit di 2020 atau naik 25,40% dibandingkan 2019 sebanyak 63 unit.

Selain itu, juga adanya tambahan dari merek Hyundai yang telah mengekspor sebanyak 7 unit di 2020 dimana pada 2019 belum adanya ekspor dari pabrikan alat berat asal Korea Selatan tersebut. 

FOTO: Istimewa

Sementara itu, dari sisi impor yang melalui terminal IPCC, sejumlah merek alat berat masih menjadi pemimpin pangsa pasar impor di sepanjang 2020, antara lain, Toyota (24,95%); Kobelco (23,24%); Caterpillar (12,60%); dan Komatsu (11,73%).

Adapun pertumbuhan dari masing-masing merek tersebut mengalami penurunan jumlah impor. Untuk alat berat Toyota mengalami penurunan 30,60% menjadi 685 unit di sepanjang 2020. Kobelco turun 43,69% menjadi 638 unit. Caterpillar turun 1,98% menjadi 346 unit dan Komatsu turun 71,17% menjadi 322 unit.

Pertumbuhan volume penanganan alat berat di sepanjang 2020 masih diperoleh dari peningkatan penanganan bongkar muat dari kategori truk/bus. Meski dari kategori alat berat yang biasa digunakan untuk industri pertambangan dan lainnya cenderung lebih rendah di sepanjang 2020, namun IPCC masih mendapatkan tambahan revenue dari segmen truk/bus.

Pihak IPCC pun berharap, permintaan akan alat-alat berat dapat kembali meningkat di sepanjang 2021 ini dengan asumsi industri pertambangan, perkebunan, kehutanan, hingga konstruksi kian pulih.

“Sehingga akhirnya volume penanganan bongkar muat terhadap alat berat yang memiliki tarif penanganan bongkar muat lebih besar dibandingkan dengan CBU dan spareparts dapat kembali meningkat. Serta juga dapat memberikan revenue enhancement dan peningkatan kinerja pada IPCC di sepanjang 2021,” pungkasnya.

BACA JUGA:   Maraknya PHK Bukti Paket Kebijakan Pemerintah Tak Efektif

FOTO: Istimewa

Tags: bongkar muatekspor alat berat dan trukIPCC
Previous Post

ACC Benamkan Investasi Rp 70 M Bangun Digital Operation Center

Next Post

Indointernet akan Dicatatkan 8 Februari

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR