Jakarta, TopBusiness – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah memberikan peringkat “idA kepada PT Wijaya Karya Beton Tbk atau WTON. Prospek untuk peringkat perusahaan adalah “stabil”.
Menurut keterangan resmi Pefindo yang diterima, dikutip Kamis (1/4/2021), obligor dengan peringkat idA memiliki kemampuan yang kuat dibanding obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya.
Walaupun demikian, kemampuan obligor mungkin akan terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan obligor dengan peringkat lebih tinggi.
“Namun begitu, peringkat tersebut mencerminkan pandangan kami terhadap pentingnya WTON secara strategis bagi pemegang saham pengendali PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA, idA/Stabil), posisi usaha yang kuat sebagai salah satu produsen beton pracetak terbesar serta jaringan yang luas dengan beragam layanan dan produk,” demikan sebut keterangan tersebut.
Meski begitu, disebutkannya, peringkat tersebut dibatasi oleh profil keuangan yang moderat, sensitivitas terhadap perubahan kondisi makroekonomi, dan ancaman pemain baru dalam industri.
Lebih lanjut disebutkan, peringkat juga dapat dinaikkan jika WTON meningkatkan posisi pasarnya dan secara signifikan meningkatkan profil keuangan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, peringkat dapat diturunkan jika target pendapatan dan/atau EBITDA Perusahaan gagal tercapai secara signifikan, yang akan mempengaruhi arus kasnya, dan jika tambahan utangnya melebihi proyeksi tanpa ada peningkatan pendapatan yang sesuai, yang akan memperlemah profil keuangannya secara berkelanjutan.
“Peringkat juga akan berada di bawah tekanan apabila kami melihat bahwa WTON tidak lagi dianggap sebagai anak perusahaan yang penting secara strategis bagi WIKA, yang dapat diindikasikan dengan penurunan tingkat pengendalian dan kepemilikan yang material terhadap Perusahaan.”
WTON adalah salah satu produsen beton pracetak terbesar di Indonesia. Pada 31 Desember 2020, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk adalah pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 60,0%, diikuti oleh Koperasi Karya Mitra Satya (KKMS, 5,9%), Yayasan Wijaya Karya (1,0%), manajemen kunci (0,9%), dan publik (32,3%).
FOTO: Istimewa
