Jakarta, TopBusiness – Lembaga pemeringkat efek, PT Pefindo menegaskan peringkat idAAA untuk PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI), serta obligasi yang masih beredar, dan menegaskan peringkat idAAA(sy) atas Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I/2018 yang masih beredar.
Analis Adrian Noer dan Danan Dito, dalam laman pefindo.com, di Jakarta, menyatakan hal tersebut. “Prospek atas peringkat perusahaan adalah stabil,” kata mereka.
Kesiapan perusahaan dalam melunasi obligasi dan sukuk yang akan jatuh tempo pada bulan Juli 2021 didukung oleh dana kas dan setara kas sebesar Rp15,0 triliun pada akhir Desember 2020 (FY2020), dan penerimaan pembayaran angsuran pinjaman per bulan sebesar Rp1,2 triliun.
Obligor berperingkat idAAA merupakan peringkat tertinggi yang diberikan. Kemampuan obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya, relatif terhadap obligor Indonesia lainnya, adalah superior. Akhiran (sy) menjelaskan bahwa peringkat mengindikasikan pemenuhan prinsip Syariah.
Peringkat atas Obligasi Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan hanya mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya atas efek utang ini, dan tidak berlaku atas tingkat sertifikasi wawasan lingkungan (green certification) dari efek utang ini. Jika terjadi penurunan tingkat sertifikasi wawasan lingkungan yang bisa berdampak pada percepatan pelunasan pokok dan/atau kenaikan tingkat kupon atas surat utang ini sesuai ketentuan yang berlaku, maka Pefindo akan melakukan pemantauan terhadap peringkat yang sudah diberikan kepada SMI maupun efek utang yang diterbitkan.
Peringkat perusahaan mencerminkan status SMI sebagai entitas terkait pemerintah yang sangat penting, potensi pembiayaan infrastruktur yang sangat besar, profil permodalan yang sangat kuat, serta indikator likuiditas dan fleksibilitas keuangan yang kuat.
Peringkat tersebut dibatasi oleh profil pembiayaan yang terkonsentrasi dan terbatasnya proyek infrastruktur yang siap untuk dibiayai.
Peringkat dapat diturunkan jika Pefindo menilai ada penurunan tingkat dukungan pemerintah yang material, yang bisa disebabkan oleh profil bisnis dan kualitas aset SMI yang memburuk secara signifikan.
“Kami memperkirakan pandemi COVID-19 ini akan memiliki dampak yang minimum pada profil kredit SMI, didukung oleh profil kualitas aset yang kuat dengan portfolio pembiayaan didominasi oleh entitas-entitas besar milik pemerintah, perusahaan swasta besar dan pemerintah daerah yang menurut kami memiliki profil risiko yang rendah. Kami juga menilai kebijakan underwriting dan pemantauan yang ketat dapat memitigasi potensi risiko kredit dari debitur-debitur tersebut di tengah kondisi pandemi,” demikian tertulis.
Foto: Istimewa
