TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Di Tengah Pandemi, Intiland Catat Pendapatan Usaha Sebesar Rp2,89 Triliun

Busthomi
29 April 2021 | 22:53
rubrik: Business Info
Intiland Batal Rilis Global Bond US$ 250 Juta

foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Kinerja keuangan salah satu pengembang properti papan atas, PT Intiland Development Tbk (DILD) sepanjang 2020 lalu masih positif. Meski berada di tengah tekanan dan penurunan pasar properti akibat pandemi Covid-19, perseroan cukup berhasil dalam menjaga dan mempertahankan kinerja usaha sepanjang tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang berakhir 31 Desember 2020, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,89 triliun. Jumlah tersebut naik Rp154,3 miliar atau 5,3 persen dibandingkan pencapaian tahun 2019 sebesar Rp2,74 triliun.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono menuturkan, kenaikan pendapatan usaha tahun 2020 didorong oleh peningkatan pengakuan penjualan dari segmen pengembangan mixed-use and high rise yang telah selesai masa pembangunannya.

Perseroan saat ini memiliki sejumlah portofolio proyek mixed-use and high rise yang berlokasi di sejumlah wilayah, meliputi Jakarta, Tangerang, dan Surabaya.

“Kenaikan pendapatan usaha antara lain dipicu adanya pengakuan penjualan dari pengembangan proyek mixed-use and high rise yang telah selesai pembangunannya, seperti kondominium Graha Golf dan The Rosebay di Surabaya serta penjualan unit-unit stok di sejumlah proyek apartemen seperti 1Park Avenue,” kata Archied melalui keterangan tertulis, Kamis (29/4/2021).

Menurutnya, pendapatan pengembangan (development income) masih memberikan kontribusi terbesar, yakni mencapai Rp2,3 triliun atau 79,6 persen dari keseluruhan. Nilai pendapatan pengembangan ini meningkat sebesar 8,2persen dibandingkan tahun 2019 senilai Rp2,1 triliun.

Sumber pendapatan usaha berikutnya berasal dari pendapatan berkelanjutan (recurring income) yang memberikan kontribusi Rp589,1 miliar atau berkontribusi 20,4 persen dari keseluruhan. Pendapatan usaha dari segmen ini membukukan penurunan 5,7 persen dibandingkan pencapaian tahun 2019 yang nilainya Rp623,1 miliar.

Segmen pengembangan mixed-use & high rise tercatat memberikan kontribusi paling besar mencapai Rp1,8 triliun, atau 63,4 persen. Kontribusi tersebut meningkat sebesar 39.4 persen dibandingkan pencapaian 2019 yang tercatat sebesar Rp1,1 triliun.

BACA JUGA:   Selama 2024, BBKP Catat Pendapatan Bunga Bersih Naik 49,20%

Kontributor berikutnya berasal dari segmen pengembangan kawasan perumahan sebesar Rp432,8 miliar atau 14,9 persen dari keseluruhan. Pendapatan dari segmen ini mengalami penurunan lebih dari separonya dibandingkan perolehan tahun 2019 senilai Rp942 miliar.

Segmen pengembangan kawasan industri menyumbang sebesar Rp36,7 miliar atau 1,3 persen. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu yang masih memberikan kontribusi senilai Rp63,4 miliar.

Archied menjelaskan, segmen pengembangan perumahan, kawasan industri, dan pendapatan berulang secara rata-rata mengalami penurunan di tahun lalu. Pandemi Covid-19 secara langsung menciptakan tekanan terhadap kinerja penjualan perseroan, seiring dengan keputusan konsumen untuk menunda dulu pembelian produk properti.

“Penyerapan pasar perumahan juga terbentur daya beli konsumen yang menurun dan keengganan untuk melakukan investasi selama masa pandemi,” kata Archied.

Dari sisi kinerja profitabilitas, perseroan mencatatkan perolehan laba kotor tahun 2020 mencapai Rp1,18 triliun atau naik tipis dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp1,13 triliun. Laba usaha perseroan juga meningkat 29 persen menjadi Rp778,4 miliar, dibandingkan tahun 2019 senilai Rp603,5 miliar. Adapun laba bersih DILD tercatat mencapai Rp76,8 miliar, atau mengalami penurunan 69 persen dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp251,4 miliar.

FOTO: Istimewa

Tags: intiland developmentkinerja keuangansektor properti
Previous Post

Permintaan Meningkat, BTN Syariah Optimalkan KPR Spektakuler Ramadan

Next Post

Pasar Properti Membaik, DILD Optimis Target Marketing Sales Rp2 Triliun Tercapai

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR