Jakarta, TopBusiness – Nama Ir. Yosephine E. Onie bukanlah nama baru di industri usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM. Sosok wanita yang tegas dalam memberikan pengajaran dan pembinaan terhadap mitra binaannya terpancar jelas. Sehingga, mitra binaannya mempunyai kekuatan motivasi dan daya kreasi dalam mewujudkan ide-ide kreatif.
Yosephine E. Onie atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Onie adalah wanita yang memiliki daya imajinasi dan ide-ide kreasi. Sehingga wajar saja, bila dari pemikirannya ini tercipta merchandise-merchandise yang laris di perusahaan dan lembaga-lembaga pemerintah hingga mancanegara.
Yosephine E. Onie selaku Production Director Oni&Craft 96 ini adalah wanita dengan semangat berjuang dalam mengembangkan bisnis dari produk-produk souvenir yang berkelas dan eksklusif. Jadi, wajar saja apa yang tercipta dari ide kreatifnya menambah nilai tambah bagi perusahaan.
Onie pun tak semata-mata memprioritasdiri dalam berkarier, namun juga melihat kondisi-kondisi UMKM di Tanah Air dalam perkembangannya. Dia pun menemui berbagai persoalan yang kerap muncul dalam rangka memasarkan produk-produk UMKM, terutama untuk sasaran pasar ekspor.
Dalam kondisi seperti itu, dirinya sangat prihatin. Bagaimana mungkin, produk-produk lokal dapat bersaing di kancah pasar global, jika aturan masih membelitnya. Padahal, produk-produk lokal mempunyai standar mutu yang tak kalah dengan produksi luar negeri.
Sehubungan dengan hal tersebut, dirinya ingin ada perubahan terutama dalam regulasi. Pasalnya selama ini regulasi menjadi kendala utama dalam rangka mencapai pangsa pasar internasional. Ijin edar yang diminta banyak sekali.
“Bagaimana bisa ekspor karena ijin edarnya banyak sekali yang diminta. Padahal, di sana belum tentu diminta di luar negeri. Minta yang ini, yang itu,” tutur Onie, kepada TopBusiness.id, di Jakarta, Jumat (30/04/2021).
Sebagai pemerhati industri mikro, kecil dan menengah, tampak benar dalam pemikiran Onie agar berskala kecil tersebut bisa terus tumbuh. Piawai dalam kompetisi di dalam negeri, juga bisa bersaing di pasar internasional. Namun begitu, masalah lain muncul lagi.
Selain regulasi, ada persoalan lain yang harus dibenahi yakni ada strata antara pengusaha kecil dan besar. Ini masih menjadi pertanyaan besar Onie. “Soal regulasi industri UKMK yang memproduksi panganan. Sekarang di makanan. Coba di UMKM dibedakan dengan kelas yang besar syaratnya. Jadi jangan dibedakan antara besar dan kecil, jadi mana bisa ekspor,’ ungkap dia.
Kondisi seperti itu harus bisa diselesaikan. Dengan begitu, produk-produk UMKM dapat terus maju, tapi tetap mengutamakan mutu dan sesuai standar yang berlaku di pasar internasional.
Strata itulah yang menyebabkan potensi meningkatkan produk dalam negeri terkendala. “Yang di sini oke in, yang di sana tak ok,” tuturnya.
Selanjutnya dia pun menyatakan hal-hal yang mengakibatkan potensi produk-produk lokal tak mampu bersaing di kancah global adalah staf di bawah pimpinan cenderung masih kurang bersahabat. Keinginan pimpinan seperti ini, tapi dalam kenyataan di bawahnya berbeda bahkan merugikan hingga mematikan produk-produk UMKM.
Di lapangan, masih banyak para bawahan tak selaras dengan keinginan pimpinannya. Padahal, pemerintah sedang giat-giatnya untuk mengembangkan industri MKM. “Tapi di bawahnya menekan. Kita juga merasakan,” ujarnya.
Tak kalah penting adalah seyogyanya pemerintah dan kementerian terkait untuk membuka dan memberikan peluang serta kesempatan bagi produk -produk UMKM bisa berkiprah di pasar nasional dan internasional. Ini dirasakan penting guna menciptakan pangsa dan penetrasi pasar yang lebih luas sehingga benefit pun lebih mudah didapat.
Dirinya pun tak mengindahkan bahwa peran pelaku UMKM tak hanya menunggu dari peran dan dukungan pemerintah. Mereka harus mampu membuka luas pemahaman dan terus bersosialisasi dalam menciptakan pangsa-pangsa pasar baru.
“Supaya saya dikasih link. Sosialisasi kemana? Jangan sampai kita setelah pameran yah sudah. Stakeholders BUMN-nya kan banyak. Tolong dikasih. Mestinya kita yang mesti aktif masuk ke mereka. Bola itu bukan kita tunggu, tapi kita lempar kemana-mana. oh 100 yang ketangkap 5 nggak apa-apa,” jelasnya.
Dalam benak Onie, pasar UMKM Nusantara mampu bersaing baik di pasar global dan internasional. Sebab, produk-produk unggulan dan bernuansa khas nusantara dengan kearifan lokal menjadi faktor penentu. Ditambah lagi, keunikan dan keterampilan tangan-tangan masyarakat guna menciptakan nilai seni yang menguntungkan bagi kehidupannya.
Foto: Istimewa

