Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia hingga penutupan perdagangan Kamis (15/07/2021) diestimasikan bergerak turun.
Dalam laman samuel.co.id, tim peneliti Samuel Sekuritas Indonesia, di Jakarta, berjudul Kasus Rekor Baru COVID-19, IHSG Berpotensi Kembali Tertekan.
Bursa AS ditutup campuran. DJIA naik 0,13% ke level 34.933, diikuti S&P500 (+0,12%) sementara Nasdaq melemah 0,22%. AS baru saja merilis data PPI (Producer Price Index)-nya untuk periode Jun-21, yang menunjukkan kenaikan +1% mom/+7.3% yoy, melebihi kenaikan bulan sebelumnya (Mei-21: +0.8% mom/+6.6% yoy ) maupun konvensi konvensi +0,6% mom/+6,8% yoy. investor kami memperkirakan akan memilih menunggu rilis laporan keuangan 2Q21 para emiten yang telah dimulai minggu ini.
EIDO ditutup melemah -0.15%%, sementara IHSG kemarin (14/7) turun 0,55% ke level 5.979 dengan BBRI, ASII, dan BBCA sebagai top lagging movers. Beli bersih asing di pasar reguler terpantau mencapai Rp 125,6 miliar. Saham yang mencatatkan nilai net sell tertinggi adalah BBCA (Rp 147,5 miliar), diikuti TLKM (Rp 50,9 miliar), dan ASII (Rp 48,4 miliar), sementara net buy tertinggi dicatatkan oleh BANK (Rp 104,1 miliar), disusul INCO (Rp 82,1 miliar), dan ANTM (Rp 42,9 miliar). Sepanjang minggu ini (Senin-Rabu), IHSG melemah 1% dengan total net buy asing di pasar reguler mencapai Rp 319 miliar.
Indonesia kembali memecahkan rekor jumlah kasus COVID-19 harian dan jumlah pasien meninggal Rabu (14/7), dengan 54.517 kasus baru (Selasa: 47.899) dan 991 pasien meninggal (Selasa: 864), sementara 17.762 pasien sembuh (Selasa: 20.123). Dengan tambahan kasus baru tersebut, jumlah total kasus yang ditemukan di Indonesia telah mencapai 2.670.046 kasus dengan tingkat pemulihan sebesar 80,8% per 14 Juli 2021 (13 Juli 2021: 81,8%).
“Kami memperkirakan bahwa IHSG mungkin akan menurun lagi hari ini, dan oleh investor bahwa PPKM Darurat akan diperpanjang seiring dengan belum menurunnya kasus COVID-19 di negeri, serta masih kuatnya tekanan atas perekonomian Indonesia. Meski demikian, ada momentum akumulasi pada sektor komoditas logam yang masih mencatat kenaikan,” demikian tertulis.
Foto: Rendy MR
