Jakarta, TopBusiness—Pelambatan pertumbuhan industri manufaktur sebagaimana membuat beberapa kalangan berpendapat bahwa sedang terjadi, atau setidaknya sudah ada gejala, adanya deindustrialisasi di Indonesia.
“Nampaknya tidak demikian. Suatu negara dapat dikatakan mengalami deindustrialisasi manakala terjadi pertumbuhan negatif secara berturut-turut dalam kurun waktu yang cukup lama,” kata Menteri Perindustrian RI (Menperin RI) Agus Kartasasmita, dalam pidato secara virtual, menyambut HUT Kemerdekaan ke-76 RI, kemarin.
Realitanya, sektor industri pengolahan di Indonesia selalu menunjukkan pertumbuhan yang positif dan selalu menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Pertumbuhan negatif hanya terjadi sebanyak dua kali akibat kejadian luar biasa, yaitu minus 11,5 persen akibat dampak krisis 1997 dan minus 2,93 persen pada tahun 2020 akibat dampak pandemi Covid-19.
Meski demikian, pada tahun berikutnya sektor industri pengolahan kembali tumbuh positif. Di triwulan II tahun 2021 pertumbuhan industri manufaktur rebound ke level positif di angka 6,91 persen.
“Di samping itu, angka absolut kontribusi sektor industri pengolahan dalam PDB secara umum meningkat meski secara persentasenya terhadap PDB menurun. Ini sejalan dengan kontribusi ekspor sektor industri manufaktur dalam ekspor nasional dan nilai investasi di sektor industri manufaktur yang selalu meningkat dari tahun ke tahun,” papar menteri tersebut.
Kontribusi ekspor sektor industri dalam ekspor nasional pada tahun 2020 tercatat sebesar 80,3 persen, dan pada Januari-Juni 2021 tercatat sebesar 78,80% yang mendorong surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$8,22 miliar.
Investasi di sektor industri pun terhitung terus meningkat naik sejak tahun 2020 dan pada periode Januari-Juni 2021 kemarin tercatat sebesar Rp. 167,1 triliun. “Atau naik 29 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019,” kata dia.
