Jakarta, TopBusiness—Investasi ke sebuah bank yang telah dibekukan saat krisis moneter tahun 1998 yakni Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), menyebabkan PT Equity Development Investment, Tbk., mencatatkan akumulasi rugi sampai dengan tahun 2021 ini. Itu dengan nilai Rp951.259.691.695.
“Walau demikian, angka tersebut sudah menurun kalau dibandingkan dengan nilai akumulasi kerugian yang di Rp1.469.158.701.000,” kata Presiden Direktur Equity Development Investment, M. Zulkifli As, dalam penjelasan untuk otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), hari ini.
Zulkifli menjelaskan bahwa pihaknya mengalami akumulasi rugi secara historis, yang disebabkan penutupan BDNI sebagai BBO (bank beku operasi) di tahun 1998. “Ada kerugian penurunan nilai investasi di BDNI sebesar Rp1.385.236.475.000. Itu 100% dari nilai investasi,” kata Zulkifli.
“Akumulasi kerugian adalah sebesar Rp1.469.158.701.000,” ia menegaskan.
Dalam penjelasan tertulis tersebut, Zulkifli mengatakan bahwa pihaknya selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja dan melakukan efisiensi pada seluruh lini usaha.
Dijelaskan pula bahwa Equity Development dalam proses menambah modal melalui penerbitan saham baru dengan HMETD (hak memesan efek terlebih dahulu). Maksimal jumlah saham baru adalah sebanyak 10.100.000.000 lembar saham.
Sedangkan hasil dari HMETD tersebut akan digunakan untuk meningkatkan investasi saham di PT Bank Ganesha, Tbk. Zulkifli pun menjelaskan bahwa, sampai kini, pihaknya belum punya rencana menerbitkan waran pada HMETD tersebut.
